Tampilkan postingan dengan label OLAHRAGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OLAHRAGA. Tampilkan semua postingan
Istilah-Istilah dalam Pencak Silat
Lihat Detail

Istilah-Istilah dalam Pencak Silat



1. Pasangan ialah sikap awal sebagai taktik untuk menentukan pola pembelaan  atau pola penyerangan berikutnya.
2. Pola Pembelaan (Pola sambut).
3. Pola Penyerangan.
4. Langkah ialah cara mendekati atau membuat jarak terhadap lawan yang langsung diiringi dengan sikap pasang yang baru.
5. Pola Langkah merupakan taktik untuk menyusun pembelaan atau serangan    yang juga dapat digunakan untuk menguasai medan.

Ketentuan nilai pada pertandingan Pencak Silat :

1.        Nilai 1      : untuk elakan atau tangkisan yang berhasil  dan di susul dengan       pukulan yang tepat mengenai sasaran.
2.      Nilai 2       : serangan kaki yang masuk pada sasaran.
3.      Nilai 3       : menjatuhkan lawan.

Perlengkapan gelanggang :
1.      Ember.
2.      Jam pertandingan.
3.      Gong atau alat yang berfungsi sama.
4.      Lampu babak.
5.      Perlengkapan pembantu pesilat.
6.      Formulir pertandingan.

Perlengkapan bertanding :
1.      Pakaian bertanding atau pakaian pencak silat berwarna hitam plus sabuk.
2.      Pelindung badan.
3.      Pelindung kemaluan.




Pembagian Kelas dalam Pencak Silat :
1.      Golongan remaja :
Kelas A 33 kg s\d 36 kg
Kelas B 36 kg s\d 39 kg
Kelas C 39 kg s\d 42 kg
Kelas D 42 kg s\d 45 kg
Kelas E 45 kg s\d 48 kg
Kelas F 48 kg s\d 51 kg
Kelas G 51 kg s\d 54 kg
Kelas H 54 kg s\d 57 kg
Kelas I  57 kg s\d 60  kg
2.      Golongan Taruna dan Dewasa :
Kelas A 40 kg s\d 45 kg
Kelas B 45 kg s\d 50 kg
Kelas C 50 kg s\d 55 kg
Kelas D 55 kg s\d 60 kg
Kelas E 60 kg s\d 65 kg
Kelas F 65 kg s\d 70 kg
Kelas G 70 kg s\d 75 kg
Kelas H 75 kg s\d 80 kg
Dengan seterusnya dengan selisih 5kg
Kelas bebas berarti diatas 65 kg.

Tugas wasit :
1.      Memimpin pertandingan berdasarkan ketentuan pertandingan.
2.      Menjaga keselamatan pesilat.
3.      Memeriksa kesiapan pesilat dan gelanggang.
4.      Memberi teguran, peringatan, dan hukuman pada pesilat.
5.      Menanyakan kepada juri bila ada keraguan.



Tugas Juri berkewajiban :
1.      Memberi penilaian pertandingan.
2.      Mencatat pelanggaran-pelanggaran.
3.      Menetukan pemenang berdasarkan jumlah nilai.
4.      Menandatangani formulir yang telah diisi.
5.      Menjawab pertanyaan atas keraguan keputusan wasit.

Tugas Pengamat Waktu :
1.      Menghidupkan dan mematikan jam pertandingan sesuai dengan aba-aba wasit dan waktu permainan yang ditentukan.
2.      Memberi isyarat kepada wasit saat perhitungan terhadap pesilat yang mengalami knock down.
3.      Memberitahukan wasit bahwa pertandingan siap dimulai.

Susunan pelaksanaan teknis pertandingan :
1.      Ketua pertandingan.
2.      Tim kesehatan dan dokter.
3.      Dewan wasit dan juri.
4.      Dewan hakim.
5.      Dewan pendekar.
6.      Pelanggaran dan hukuman.


LAPORAN PENGAMATAN GERAK YANG DILAKUKAN TERHADAP SISWA-SISWI SEKOLAH DASAR YANG BERKAITAN DENGAN CABANG ATLETIK.
Lihat Detail

LAPORAN PENGAMATAN GERAK YANG DILAKUKAN TERHADAP SISWA-SISWI SEKOLAH DASAR YANG BERKAITAN DENGAN CABANG ATLETIK.



Saya mempunyai pendapat sendiri setelah saya melakukan pengamatan gerak yang dilakukan oleh siswa-siswi sekolah dasar yang berkaitan dengan cabang atletik, karena ini merupakan salah satu tugas yang harus saya lakukan dalam mata kuliah DMP Atletik. Di bawah ini merupakan pendapat saya tentang kelebihan dan kekurangan yang ada dari hasil pengamatan yang saya lakukan, diantaranya dilihat dari segi : 
* Segi psikologis
  1. Kelebihan : Dengan melakukan gerak yang telah diperintahkan oleh seorang guru yang telah disusun segala rupa dengan menyelipkan didalamnya permainan, dapat meningkatkan psikologis anak saat anak melakukan suatu gerakan tertentu sehingga anak tidak mengalami kejenuhan dalam melakukan suatu gerakan.
  2. Kekurangan : Dengan banyaknya pola-pola gerakan yang dilakukan oleh anak dapat menyebabkan anak capai sehingga anak tidak konsentrasi atau mentalnya turun lagi dalam melakukan suatu gerakan yang dituntut agar dilakukan.
* Segi Keterampilan
a.       Kelebihan : Dengan banyaknya pola-pola gerakan yang dilakukan secara berulang-ulang maka keterampilan anak dapat bertambah sehingga dapat memungkinkan anak dapat melakukan suatu gerakan tertentu dengan baik.
b.      Kekurangan : Dengan masih mudanya usia anak, maka anak masih memerlukan banyak waktu untuk dapat menyerap atau mengingat suatu gerakan yang dapat meningkatkan keterampilan geraknya, jadi pengajar harus tekun dalam mengajarkan suatu gerakan kepada anak.
* Segi Fisik
a.       Kelebihan : Dengan belajar bergerak mengikuti perintah yang diberikan pengajar dapat membantu melatih fisik anak agar terbiasa bergerak sehingga fisik anak dapat meningkat.
b.      Kekurangan : Perlu diperhatikan pula usia anak yang masih kecil dimana fisik anak masih lemah, jadi hendaknya pengajar tidak memaksakan anak agar terus bergerak yang dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Demikian pendapat saya tentang kelebihan dan kekurangan dari hasil pengamatan yang saya lakukan. Mohon maaf bila ada kesalahan yang terdapat pada hasil pemgamatan yang saya tulis diatas. 
Pemberdayaan Sarana Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Lihat Detail

Pemberdayaan Sarana Pembelajaran Pendidikan Jasmani


Berdasarkan kata pemberdayaan, sangat kompleks artinya tergantung dari sudut pandang orang yang menggunakan istilah tersebut. Akan tetapi nampaknya banyak para ahli yang membuat defisinisi dari kata pemberdayaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (balai pustaka, 1995:214) mendefisinisikan bahwa pemberdayaan merupakan cara yang amat praktis dan produktif untuk mendapatkan yang terbaik dari kita sendiri dan dari staf kita. Karena itulah maka pemberdayaan mempunyai makna dan maksud tertentu, yaitu memanfaatkan semua faktor dan fasilitas yang ada guna mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin.
Selanjunya Engkoswara (1999:119) berpendapat bahwa pemberdayaan itu merupakan pemanfaatan secara maksimal sumber daya yang ada. Dalam hal ini bias memanfaatkan tenaga manusia berupa pembagian tugas-tugas fungsi dalam organisasi yang bias dituangkan dalam bentuk pikiran, pendapat, karya ilmiah, dan sebagainya. Richard Carver dalam bukunya Managing Director Coverdale Organization yang dikutip oleh David Clluterbuck (2003:3) mendefisikan pemberdayaan sebagai upaya mendorong dan memungkinkan individu-individu untuk mengemban tanggung jawab pribadi atas upaya mereka memperbaiki cara mereka melaksanakan pekerjaan-pekerjaan mereka dan menyumbang pada pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Hal itu dituntut terciptanya suatu budaya yang mendorong orang-orang disemua tingkat untuk merasa mereka bisa menghasilkan perubahan dan membantu mereka mendapatkan kepercayaan diri dan keterampilan-keterampilan untuk menghasilkan perubahan-perubahan itu. Definisi lain pemberdayaan menurut David Clutterbuck dalam bukunya The Power Of Empowerment adalah
a. Upaya menemukan cara-cara baru untuk memusatkan kekuasaan ditangan orang-orang yang paling membutuhkannya untuk melaksanakan pekerjaannya, memberikan kewenangan, tanggung jawab, sumber-sumber dan hak-hak yang paling tepat untuk masing-masing tugas.
b.      Upaya menciptakan situasi dan kondisi dimana orang-orang bisa menggunakan kualitas-kualitas dan kemampuan-kemampuan mereka ditingkat maksimum untuk mewujudkan tujuan bersama.
Dalam dunia pendidikan, pemberdayaan ditujukan kepada para peserta didik, guru, kepala sekolah. Pegawai administrasi dan sarana pembelajaran yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Pemberdayaan dalam penelitin ini mengarah pada pemberdayaan sarana pembelajaran yang ada disekolah untuk mendukung terlaksananya situasi pembelajaran yang diinginkan.
Pemberdayaan ini tentunya akan dirasakan berhasil bila dalam pelaksanaannya didukung oleh segala komponen yang ada dan mempengaruhi lembaga yang menaunginya, sehingga pada waktu pelaksanaannya pemberdayaan harus dijadikan suatu komitmen bersama dalam meningkatkan proses belajar mengajar yang diharapkan sampai terwujudnya tujuan pembelajaran yang ditetapkan.  
Istilah sarana pembelajaran adalah terjemahan dari facilities, yaitu sesuatu yang dapat digunakan dan dimanfaatkan dalam pelaksanan kegiatan pembalajar olah raga atau pendidikan jasmani. Uraian diatas sesuai dengan yang dikemukakan oleh Arifin (1987:168), “sarana adalah sesuatu yang dipergunakan sabagai alat dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau kegiata-kegiatan”.  Sarana pembelajaran merupakan pendukung utama dalam kelancaran proses belajar mengajar pendidikan jasmani di sekolah.
Beberapa rincian sarana/alat pembelajaran pendidikan jasmanj, sebagai berikut :
a.   Bola besar
jenis-jenis bola besar salah satunya dipergunakan untuk permainan sepak bola, bola tangan, bola basket, dan bola voly.
b.  Bola kecil
jenis-jenis bola kecil salah satunya dipergunakan untuk permainan softball, baseball, dan hochey.
c.  Kayu pemukul
     kayu pemukul dapat dipergunakan untuk permainan softball dan hochey.
d.  Alat untuk cabang atletik
     alat untuk cabang atletik diantaranya lembing, peluru, cakram, tongkat estapet,gawang untuk lari gawang, stop watch, bendera star, alat meteran minimal 50 meter.
b.      Alat senam
Alat-alat  senam terdiri dari matras (usahakan yang terbuat dari karet busa), peti lompat, dan lain-lain.

Oleh karena itu, keberadaan sarana pembelajaran pendidikan jasmani sering sekali pengajar mengalami kesulitan didalam menyampaikan materi pelajaran ke siswa di karenakan kekurangan peralatan di sekolah tempat mereka mengajar. Sarana pembelajaran pendidikan jasmani yang dimiliki oleh setiap sekolah tidaklah sama, ada sekolah yang memiliki peralatan yang lengkap, ada juga sekolah yang kurang lengkap sarana pembelajaran pendidikan jasmaninya. Bagi guru yang mengajar disekolah yang lengkap sarana pembelajarannya mungkin tidak akan menjadi masalah dalam memberdayakan sarana pembelajaran, mungkin hanya memikirkan cara penggunaan, pengelolaan, dan pengaturan sarana pembelajaran itu. Sebaliknya bila disekolah tempat mereka mengajar tidak lengkap sarana pembelajarannya mungkin dalam pemberdayaan sarana pembelajaran akan lebih sulit, karena guru bukan hanya memikirkan cara penggunaan, pengelolaan, dan pengaturannya, tetapi bagaimana mengadakan atau menciptakan alat yang tidak ada agar tidak menghambat proses pembelajaran yang dilaksanakan, serta tidak mengurangi tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun dengan keadaan tersebut justru menjadi tantangan bagi guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang diinginkan agar materi yang di sampaikan dapat berjalan dengan lancar tanpa mengurangi tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu sebelum mengajar guru pendidikan jasmani harus mengetahui keberadaan sarana pembelajaran yang ada di sekolah tempat ia mengajar, berapa jumlah sarana pembelajaran yang ada dan bagaimana kondisi keadaannya. Ada beberapa faktor pemberdayaan sarana pembelajaran yang akan peneliti bahas dalam penelitian ini, antara lain :
1.      Penggunaan atau pemanfaatan sarana pembelajaran
Penggunaan sarana pembelajaran harus disesuaikan dengan jenis dan fungsi alat-alat atau sarana pembelajaran yang bersangkutan. Soebroto et.al (1978:3) menjelaskan bahwa : “ pengadaan sarana dan prasarana olah raga yang sesuai dengan penggunaannya, akan memberikan efektifitas dan efisiensi yang tinggi”. Maksud dari pendapat tersebut adalah dengan penggunaan alat-alat olah raga yang sesuai dengan fungsinya maka akan dapat menghasilkan pencapaian tujuan pengajaran pendidikan jasmani yang maksimal. Hal seperti itu sangatlah penting dilakukan oleh guru, karena menyangkut kelancaran proses pembelajaran.
Seperti halnya prasarana pembelajaran pendidikan jasmani, sarana pembelajaran jasmani yang digunakan pada masing-masing cabang olah raga memiliki ukuran yang standar, akan tetapi apabila cabang olah raga tersebut dipakai sebagai materi pembelajaran pendidikan jasmani, sarana yang digunakan bisa hasil kreatifitas guru dalam memberdayakan sarana yang sudah ada menjadi lebih bermanfaat kegunaannya disesuaikan dengan kondisi sekolah dan karekteristi siswa.
 Dalam penggunaan atau pemanfaatan sarana pembelajaran tidak harus menggunakan sarana yang lazim dipakai oleh guru dalam proses pembelajarannya, itu sesuai dengan pendapat Lutan (1998:19), menjelaskan : “tidak ada ketentuan bahwa alat yang digunakan harus alat yang lazim dipakai dalam kegiatan olah raga yang sebenarnya. Terbuka kesempatan bagi guru pendidikan jasmani untuk membuat sendiri sarana atau alat pembelajaran sesuai dengan kebutuhan guna menyampaikan bahan pelajaran, kreatifitas memanfaatkan sumber-sumber setempat merupakan kunci keberhasilan mengatasi masalah tersebut”. Jadi jelaslah sudah bahwa penggunaan sarana pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran tidak harus sarana yang baku, tetapi guru pendidikan jasmani dapat menggunakan sarana-sarana pembelajaran yang ada dalam proses pembelajaran tetapi disesuaikan dengan kebutuhan materi yang disampaikan.  
2.      Pengelolaan sarana pembelajaran
               Pengelolaan sarana pembelajaran sangat penting dilakukan oleh semua guru pendidikan jasmani. Guru sebelum melakukan proses pembelajaran merinci terlebih dahulu sarana pembelajaran yang akan digunakan, dan sesudah selesai pembelajaran guru harus kembali merinci peralatan yang telah digunakan, kalau saja peralatan tadi ada yang rusak atau hilang dapat diketahui. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Supandi (1991:121) yaitu “ Aspek manajerial perlengkapan dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani ialah distribusi perlengkapan sebelum proses belajar mengajar dan pengumpulan perlengkapan sesudah proses tersebut”.
Pendapat senada diutarakan oleh Supandi (1991:122) yaitu : “hal lain dalam pengelolaan alat, kelengkapan untuk proses belajar mengajar adalah pengumpulan alat-alat setelah dipakai.Tanda prosedur yang ketat, kehilangan atau kerusakan alat sering terjadi justru pada saat-saat selesai kegiatan proses belajar mengajar khususnya alat perorangan”. Selain pengecekan kelengkapan sarana pembelajaran sebelum maupun sesudah pembelajaran, sarana perlu juga pemeliharaan agar kualitasnya tidak cepat hilang dikarenakan pemakaian dalam mendukung proses pembelajaran.
Dari penjelasan diatas maka jelaslah bahwa pengelolaan kelengkapan sarana pembelajaran di dalam pendidikan jasmani sangatlah penting dalam menunjang proses pembelajaran pendidikan jasmani, dan sarana pembelajaran itu harus disiapkan oleh guru baik sebelum dimulai pelajaran atau sesudah berakhirnya pelajaran pendidikan jasmani.
3.  Pengaturan sarana pembelajaran
              Pengaturan sarana pembelajaran sangat fital fungsinya dalam proses pembelajaran, dikarenakan semua guru pendidikan jasmani harus dapat mengatur sarana pembelajaran sedemikian rupa agar proses pembelajaran yang akan dilakukan dapat berjalan dengan baik. Dari mulai mengatur, menyusun, memasang, dan merapikan sarana atau alat pembelajaran harus sepengetahuan guru pendidikan jasmani. Dengan pengertian lain dapat dikatakan bahwa pengaturan perlengkapan sarana pembelajaran pendidikan jasmani tergolong aspek yang sangat strategis dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Supandi (1991:121-122), beberapa prosedur pengaturan  perlengkapan dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani dikemukakan sebagai berikut :



a. Sendiri-sendiri
 Siswa antri didepan tempat pemberian alat, guru atau petugas gudang            membagikan alat-alat yang diperlukan itu kepada tiap-tiap siswa.
b. Sendiri-sendiri berdasarkan nomor
 Sama dengan yang pertama kecuali setiap anak diberi nomor tertentu yang sesuai dengan nomor alat.
c. Kelompok
 Pembagian dan pengumpulan alat kelengkapan itu dilaksanakan melalui ketua kelompok.
d. Dengan tanda atau perjanjian
Guru meletakkan alat atau kelengkapan pada suatu peti atau dus dan diletakkan di tengah ruang atau lapang atau di mana saja yang mudah dicapai siswa. berdasarkan tanda tertentu siswa pergi ke kotak alat tersebut dan mengambil alat yang ditentukan sebelumnya.
Dari penjelasan diatas jelaslah bahwa guru harus mampu dalam hal pengaturan sarana pembelajaran pada waktu kegiatan proses belajar mengajar berlangsung dan guru harus mampu mengatur sarana pembelajaran yang akan digunakan oleh siswa.
Pengaturan sarana pembelajaran untuk efektifitas pengajaran, Lutan (1998:18) menjelaskan :Beberapa siasat yang dapat ditetapkan sebagai berikut : Pertama, alat ditempatkan pada beberapa station. Kedua, latihan berkawan, salah seorang bertugas untuk mengawasi temannya yang sedang berlatih berikut bergantian. Ketiga, alat-alat disebar di sekeliling lapangan, semua alat ditempatkan pada tempat yang memungkinkan guru dapat mengamati semua station latihan”.

Dengan demikian sarana pembelajaran harus diatur dengan sebaik-baiknya agar siswa dapat menggunakan sarana pembelajaran itu untuk belajar secara optimal dan sarana itu harus dapat di tempatkan dengan aman dan dapat terkontrol oleh guru. Sehingga sarana pembelajaran yang tersedia di sekolah dapat terpakai dalam waktu yang cukup lama.
Guru Pendidikan Jasmani
Lihat Detail

Guru Pendidikan Jasmani


Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan layanannya, meningkatkan pengetahuan, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan malah bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa,teman-temannya, serta anggota masyarakat sering menjadi perhatian masyarakat luas.


Guru adalah sosok individu yang memiliki kemampuan dalam menransfer ilmu pengetahuan, informasi, atau pengalaman kepada peserta didiknya. Guru juga individu yang melakukan pekerjaannya didasarkan kepada kemampuan dalam mengarahkan pengalaman belajar peserta didik dalam institusi pendidikan. Menurut Makmun (1998:23) guru adalah seorang dewasa yang selalu mengusahakan terciptanya situasi mengajar yang tepat, termasuk mengerahkan sumber ajar dan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat, sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa”. 
Guru juga disebut sebagai penanggung jawab pelaksana yang melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah. Sampai saat sekarang, guru masih tetap dominan dalam melaksanakan pembelajaran. Walaupun metode Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sering diangkat kepermukaan sebagai upaya agar siswa menjadi objek (sebagai bahan kajian) belajar, pada kenyataannya masih banyak kelemahan yang memerlukan uluran tangan para guru-guru sebagai subjek dan siswa sebagai objek (orang yang dijadikan sasaran) masih tetap dominasi dunia pendidikan kita. Tanpa memiliki pengetahuan tentang proses belajar mengajar yang cukup layak, niscaya pada guru akan menemukan batu sandungan dalam melaksanakan tugas mulianya.
Guru juga dapat disebut sebagai pejabat fungsional yang bersifat professional. Pengertian professional erat kaitannya dengan keahlian dan keterampilan yang telah dipersiapkan melalui proses pendidikan dan pelatihan secara khusus dalam bidangnya. Pemberian bantuan agar guru dapat bersifat professional dalam menjalankan tugasnya dilakukan dengan berbagai program kegiatan seperti penataran, tutorial dalam kelas maupun luar kalas. Program kegiatan itu disusun bersama, dilakukan secara berkelanjutan dan terjadwal, dipantau serta dievaluasi.
Beberapa keuntungan yang didapat oleh para guru yang mengikuti pelaksanaan penataran agar dapat memenuhi kebutuhan guru bila sedang terjun langsung kelapangan, antara lain:
a.   menambah pengetahuan dan keterampilan instruksional para guru
b.      memajukan pola dan jenis interaksi guru dan murid ke tahap yang lebih baik
c.       mengembangkan perilaku guru dalam mengelola kelas yang lebih kreatif
d.      menumbuhkan kreatifitas dan komitmen guru dalam memberikan bantuan pelayanan terhadap siswa.
Dari uraian di atas jalaslah sudah bahwa keprofesionalan guru sangat di perlukan dalam proses belajar mengajar agar dapat terciptanya pembelajaran dan tujuan yang diinginkan.
     Pendidikan adalah hidup, artinya pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup serta mempengaruhi pertumbuhan individu. Pendidikan pada dasarnya merupakan penataan kembali aneka pengalaman-pengalaman dan peristiwa yang dialami individu agar sesuatu yang baru menjadi lebih terarah dan bermakna. Pendidikan menurut Abdulhak (1998:1) adalah “pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup”. Di dalam proses pendidikan tersebut memiliki tujuan yang sangat penting yaitu mendewasakan seseorang sehingga dapat menentukan pilihan mana yang perlu dilakukan untuk kepentingannya maupun untuk umum yang ditunjang oleh kecerdasan dan keterampilan. Menurut Ma’mun (1998:18) mengemukakan bahwa:
a.       Dalam arti luas pendidikan dapat mencangkup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu dengan lingkungannya baik secara formal, non formal maupun informal, dalam rangka mewujudkan dirinya sesuai dengan tahapan tugas perkembangan secara optimal sehingga ia mencapai suatu taraf kedewasaan tertentu.
b.      Dalam arti terbatas, pendidikan dapat merupakan salah satu proses interaksi belajar mengajar dalam bentuk formal yang dikenal sebagai pengajaran (instructional).
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan komponen yang sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap manusia dan pendidikan memberikan kontribusi bagi kelangsungan hidup, dan perbaikan hidup individu maupun meningkatkan penghidupan suatu bangsa.
Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan maupun sebagai anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak. Pengertian pendidikan jasmani menurut Lutan (2002:4) adalah :”pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organic, neuromuscular, intelektual, dan emosional. Pendidikan jasmani juga di sebut sebagai wahana untuk mendidik anak, disamping itu juga pendidikan jasmani merupakan alat untuk membina anak muda agar mereka kelak mampu membuat keputusan terbaik tentang aktifitas jasmani yang dilakukan dan mengalami pola hidup sehat disepanjang hayatnya. Pendidikan jasmani juga merupakan salah satu alat utama yang turut mendukung terhadap terlaksananya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Hal ini disebabkan karena pendidikan jasmani termasuk salah satu bidang studi yang diajarkan disekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta dari tingkat taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas, bahkan sampai perguruan tinggi. Aktivitas pendidikan jasmani didesain untuk mengembangkan aspek kognitif dan asfek psikomotor siswa, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan dapat mendorong siswa untuk bertanya, menganalisa, menerapkan, berkomunikasi, dan menerapkan aspek kognitifnya.  
Penjas telah banyak memberikanarti yang positif bagi perkembangan kemampuan anak, khususnya dalam meningkatkan kebugaran jasmaninya. Konsep dari pendidikan jasmani bukan hanya sekedar mengembangkan segi kejasmaniannya saja, tetapi dapat pula di pupuk dan dikembangkan sikap mental yang baik, seperti kejujuran, keberanian, disiplin, bertanggung jawab, sportivitas dan lain sebagainya. Program pendidikan jasmani merupakan suatu aktivitas yang telah berakar di tengah-tengah masyarakat dalam dimensi masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Pendidikan jasmani termasuk usaha pendidikan yang menggunakan otot-otot besar, hingga proses pendidikan yang berlangsung tidak menjadi penghambat terhadap kesehatan dan pertumbuhan badan. Istilah pendidikan jasmani di Indonesia pada dasarnya merupakan terjemahan dari “physical education”. Selanjutnya dalam perkembangan pendidikan nasional, istilah tersebut kemudian mengalami beberapa perubahan sampai akhirnya pada tahun 1990-an ditetapkan istilah pendidikan jasmani di sekolah-sekolah menggantikan istilah pendidikan olah raga.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan suatu rumusan bahwa pendidikan jasmani adalah:
a. bagian terpadu dari proses pendidikan secara keseluruhan yang menekankan pada aktivitas jasmaniah sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
b.  suatu upaya pendidikan untuk membantu mengarahkan anak didik dalam penyempurnan keadaan jasmani, mental, emosional, dan social melalui medium aktifitas jasmani.
Guru pendidikan jasmani merupakan faktor yang penting pengaruhnya terhadap keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Sebagai pelaku sentral dalam proses belajar mengajar di sekolah, guru harus mampu menggali potensi peserta didik secara maksimal guna melahirkan generasi penerus bangsa yang lebih unggul dan mampu bersaing dalam era global ini. Maka peran guru pendidikan jasmani tidak hanya mentransfer penetahuan dan keterampilan kepada peserta didik tetapi juga harus mampu membina dan mengembangkan perilaku positifnya sehingga peserta didik dapat menjadi anak bangsa yang berkemampuan tinggi dan tangguh dalam menghadapi persoalan.
Agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa didiknya sehingga tumbuh minat belajarnya maka guru harus bekerja keras dalam membuat perencanaan, implementasi, dan penilaian kegiatan belajar agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif untuk mencapai tujuan pendidikan. Sudah menjadi keharusan bagi lembaga pendidikan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia guru melalui serangkaian pembinaan mutu yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk melatih kepekan guru terhadap latar belakang peserta didik yang semakin beragam di tingkat SLTP. Dalam peningkatan mutu guru melalui pendidikan dan latihan. Penekanan diberikan kepada kemampuan guru agar dapat mencapai tujuan pembelajarannya, mengatasi persoalan praktis dalam mengelola proses belajar mengajar dan meningkatkan kepekaan guru terhadap perbedaan individual siswa yang dihadapinya. Jadi guru merupakan sosok yang memiliki keunggulan dalam ilmu dan akhlak yang dapat ditiru dan digugu oleh siapapun terutama siswa.
Peran guru pendidikan jasmani bersifat majemuk, artinya peran guru ini tidak hanya satu tetapi lebih dari satu. Menurut pengertian umum, guru ini dapat berperan sebagai pemimpin siswa, meneger yang mengelola kegiatan belajar mengajar, dan fasilitator yang berupaya menciptakan lingkungan belajar yang mengefektifkan proses belajar siswa, dan sebagai pembimbing yang membantu kesulitan dan pengarahan belajar siswa. Tanpa memahami peranan-peranan ini besar kemungkinan guru ini salah bertindak atau salah berperan dalam situasi belajar. Selain mengubah perilaku siswa, guru pendidikan jasmani melalui aktifitas jasmani senantiasa mengupayakan untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan jasmani merupakan bagian dari program pendidikan secara umum terutama memberikan kontribusi melalui pengalaman pertumbuhan dan keseluruhan gerak anak. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan dijelaskan mengenai tugas dan peran guru pendidikan jasmani:
a. Informator
Pelaksanaan proses belajar mengajar umumnya dijiwai oleh berbagai informasi yang diberikan oleh guru. Penyampaian bahan pelajaran tidak lain merupakan proses pemberian informasi dari guru kepada siswa, maka aktualisasi proses belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi yang disampaikan oleh guru.
b. Organisator
Fungsi dan tanggung jawab atas baik buruknya pengorganisasian faktor-faktor yang terlibat dalam proses belajar mengajar seperti siswa, bahan, metode, fasilitas, alat, dan waktu yang disediakan, masih melekat pada guru dalam kedudukannya sebagai “director of learning”.
c. Motivator
Mengembangkan langkah-langkah yang mampu menciptakan motivasi eksternal kepada para siswa yang memiliki motivasi internal rendah.
d. Perancang dan Pengatur Irama Proses Belajar Mengajar
Guru harus mampu merancang dan mengatur irama proses belajar mengajar agar suasananya tetap menarik dan penuh variasi.


e. Inisiator
Guru harusa memberi inisiatif untuk mengkaji bahan pelajaran tertentu, meskipun sebagian basar aktivitas belajar mengajardiserahkan kepada siswa.
f. Pemberi Arah
Seorang guru perlu mengembangkan dan membina pola komunikasi banyak arah, oleh karena itu perlu adanya fungsi guru yang akan mengatur lalu lintas pendapat diantara siswa.
g. Fasilitator
Guru harus memberi kemudahan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar
h. Katalisator
Guru diharapkan mampu menyaring atau menghilangkan berbagai hal yang kurang baik, kurang bermanfaat, keliru dan tidak cocok dengan tujuan pengajaran tanpa mengganggu proses belajar mengajar.
i.  Evaluator
Guru diharapkan dapat menilai baik buruknya proses belajar mengajar yang diukur dari derajat pencapaian tujuan pengajaran dan proses pembelajaran.
Dalam peningkatan mutu guru melalui pendidikan dan latihan. Penekanan diberikan kepada kemampuan guru agar dapat mencapai tujuan pembelajarannya, mengatasi persoalan praktis dalam mengelola proses belajar mengajar dan meningkatkan kepekaan guru terhadap perbedaan individual siswa yang dihadapinya. Jadi guru merupakan sosok yang memiliki keunggulan dalam ilmu dan akhlak yang dapat ditiru dan digugu oleh siapapun terutama siswa.
Ciri guru pendidikan jasmani yang efektif adalah :
a. Mampu mengelola lingkungan belajar siswa secara aktif, efisien,dan menimbulkan rasa aman bagi siswa.
b.   Mampu mengelola lingkungan belajar siswa yang dilandasi oleh rasa cinta dan    kasih, keterbukaan, semangat dan antusias, sabar dan ikhlas serta penuh rasa empati.
c.  Menguasai bahan pelajaran, terampil dalam menggunakan berbagai metode     dan gaya mengajar yang bervariasi, dan menggunakan pendekatan individual.
d.   Selalu tampil rapih, bersih, semangat, serta riang, dan gembira
Untuk meningkatan profesionalitasnya guru pendidikan jasmani dituntut untuk meningkatkan komitmennya kepada siswa, masyarakat, dan kepada organisasi profesinya. Guru pendidikan jasmani harus selalu aktif dan siswanya secara konsisten aktif belajar, dalam lingkungan penbelajaran, siswa tidak bekerja sendiri melainkan selalu diawasi oleh gurunya sehingga tidak banyak waktu yang terbuang begitu saja dengan cara aktivitas belajar siswa lebih aktif, sibuk dan menantang akan tetapi proses belajar mengajar tetap berada diantara tingkat perkembangan dan kemampuan siswanya. Oleh karena itu, seorang guru dituntut mempunyai keterampilan-keterampilan dasar mengajar dan menguasai serta mampu menerapkan keterampilan mengajarnya tersebut, sehingga ia mampu mengatasi dan mengantisipasi berbagai masalah atau tantangan yang muncul dalam proses belajar mengajar yang diakibatkan oleh perubahan dan dinamika mengajar.