Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Guru Profesi yang Tidak "Menjanjikan" ( Bag. 2)
Lihat Detail

Guru Profesi yang Tidak "Menjanjikan" ( Bag. 2)

Apakah anda berminat menjadi seorang guru? maka penting untuk mengetahui sekelumit kehidupan guru. Sambungan dari artikel saya sebelumnya Gu... Baca Selengkapnya...
Artikel
Apakah anda berminat menjadi seorang guru? maka penting untuk mengetahui sekelumit kehidupan guru. Sambungan dari artikel saya sebelumnya Guru Profesi yang Tidak "Menjanjikan" ( Bag. 1). Silakan baca dari awal jika punya waktu.

Guru Profesi yang Tidak "Menjanjikan"
Guru Profesi yang Tidak "Menjanjikan"


Sekali lagi, kehidupan seorang guru telah berubah dari zaman ke zaman, dahulu begitu dihormati, dipandang sebagai orang yang bijaksana hingga orangyang menjadi tempat bertanya segala permasalahan. Meskipun kita tahu bahwa seorang guru bukanlah manusia super yang bisa tahu segala hal sekaligus.
Setidaknya gambaran tersebut cukup untuk menunjukkan posisi seorang guru dalam masyarakat Indonesia yang memang menjunjung tinggiorang yang layak untuk dihormati. Namun sekarang, guru tidak lebih dari sekadar profesi mengajar di sebuah lembaga pendidikan.
Terlalu banyak faktor jika ditanyakan "kenapa demikian?" Salah satunya adalah penjelasa saya di bagian pertama tulisan ini, yaitu rendahnya penghasilan sebagai seorang guru.

Pada masyarakat sampai berkembang pernyataan "kalau mau kaya jangan jadi guru", akhirnya saya mengerti sekali akan pernyataan ini. Karena memang (hampir) mustahil untuk bisa kaya dengan profesi guru. Jika ada yang kebetulan kaya, maka tidak lebih dari 2 kemungkinan. Pertama, guru tersebut punya usaha sampingan yang menghasilkan lebih banyak sehingga usaha tersebutlah yang menopang finansial sembari "nyambil" sebagai seorang guru. Kedua, memang berasal dari keluarga (orang tua) kaya, sehingga sudah punya aset produktif sembari "nyambil" sebagai seorang guru.

Sebenarnya sudah banyak langkah kebijakan yang diambil pemerintah guna mengatasi hal ini, mulai dari program sertifikasi, insentif dan semacamnya. Namun di lapangan, yang menikmatinya hanya segelintir dan bahkan kurang efektif dari segi hasil kebijakan tersebut. Sebagian besar lainnya hanya bersabar dan menunggu "nasib" untuk bisa merasakan sedikit manisnya profesi tersebut.

Lantas mengapa masih banyak orang yang berprofesi sebagai guru sekarang?
Ada beberapa kemungkinan menurut saya pribadi.
Pertama, memang sudah passion orang tersebut menjadi seorang tenaga pendidik, sehingga dia bisa dengan sabar dengan keadaan yang ada. Jika orang tersebut seorang guru PNS maka lebih mudah lagi.
kedua, terjebak di pekerjaan sebagai seorang guru. Maksudnya adalah ketika seseorang sudah mengambil kuliah di fakultas pendidikan, maka otomatis ijazahnya hanya diakui di dunia pendidikan, tidak di lainnya. Akhirnya yang bisa di tekuni profesi guru saja. Walaupun mungkin dalam hati kecil ada rasa ingin pindah profesi lain, namun berbagai macam pertimbangan membuatnya bertahan dengan profesi guru.

Akhir dari tulisan ini penulis ingin menekankan bahwa profesi guru tidaklah seindah julukan "pahlawan tanpa tanda jasa". Namun Sebagian besar guru memiliki kesabaran luar biasa, khususnya jika dia di posisi kepala keluarga sehingga masih bisa dengan tulus mengabdi pada negeri. Mendidik dan berupaya mencerdaskan generasi penerus walau kadang semakin berat tuntutan zaman.

Semua pihak turut andil dalam pendidikan bangsa ini, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gurulah yang menjadi barisan terdepan dalam prosesnya. Untuk itulah hendaknya pemerintah, orang tua, masyarakat, bahkan siswa itu sendiri mulai memikirkan dan bertindak untuk menyelamatkan "guru" ini. Karena bukan mustahil jika keadaan terus seperti ini, anak muda tidak tertarik menjadi guru atau sebatas sampingan saja. Hal ini tentu saja akan berakibat fatal bagi generasi penerus bangsa ini.



Guru Profesi yang Tidak "Menjanjikan" (Bag. 1)
Lihat Detail

Guru Profesi yang Tidak "Menjanjikan" (Bag. 1)

suka duka guru   Sebagian besar kita ketika kecil jika ditanya "apa cita-cita kalau sudah besar nanti?" maka hampir bisa ditebak j... Baca Selengkapnya...
Artikel
suka duka guru
suka duka guru
  Sebagian besar kita ketika kecil jika ditanya "apa cita-cita kalau sudah besar nanti?" maka hampir bisa ditebak jawabannya kalau tidak dokter, pilot, polisi/tentara. Sebagian kecil akan menjawab jadi guru, barangkali si anak terisnspirasi oleh kebaikan gurunya ketika masih SD. Sejak awal sudah tertanam dalam benak kita bahwa menjadi guru bukanlah profesi pilihan utama bagi sebagian besar kita.
Penulis sendiri tidak ingat persis jawaban jika ditanya cita-cita seperti di atas. Namun entah bagaimana garis kehidupan membuat penulis menjadi seorang guru untuk saat ini. Sekitar 8 Tahun sudah menggeluti profesi ini dan sudah mulai mengerti asam garamnya menjadi seorang guru.

Berawal dari keterbatasan biaya untuk bisa kuliah, akhirnya memutuskan untuk mengambil akultas keguruan karena biayanya cukup terjangkau dibandingkan dengan fakultas lainnya kala itu.
Ketika kuliah pun mulai belajar untuk mencari pekerjaan yang tidak jauh dari dunia pendidikan, alhasil beberapa tempat bimbel dan privat pun dilakoni. Perlahan namun pasti akhirnya jiwa sebagai seorang pendidik mulai terpatri di dalam diri.

Bicara masalah profesi guru, adalah salah satu dilema menurut penulis sendiri. Kalau mau jujur, profesi guru hampir mustahil untuk bertahan hidup layak saat ini. Makanya sebagian besar guru pastilah punya usaha sampingan selain mengajar di sekolah.

Sebagian guru beruntung karena sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil karena setidaknya biaya kehidupan keluarga hingga tua masih "terjamin". sebagian lainnya lagi beruntung karena bekerja di instansi swasta yang sudah bonafide. Sehingga bisa mendapat upah lumayan untuk kehidupannya. Bahkan sebagian tertentu isntansi ini lebih menggiurkan daripada PNS.

Tapi sebagian besar guru hidup dibawah bayang-bayang "honorer". Masih lebih baik jika yang dimaksud adalah "honorer pemerintah/daerah", kenyataannya honorer yang dimaksud adalah guru yang dibayar honornya seadanya. Honor yang dibayarkan saat dana BOS (Bantuan Operasional Komputer) yang notabene 3 bulan sekali (kalau lancar). Atau honor hasil sumbangan/patungan para guru PNS di sekolahnya jika mereka dapat tunjangan. Lebih kepada belas kasihan rekan sejawat saja jika begini.

Nominalnya? sebagian besar Rp. 300.000,- perbulan, jika beruntung dapat sampai 1,5 jt perbulan. Namun jangan harap rutin tiap bulan. Kondisi ini membuat "gali lobang tutup lobang" seorang guru honorer menjadi hal yang lumrah. Bahkan mungkin bisa bertahan hidup mengandalkan hutang dari warung tetangga yang masih mau mengerti dengan keadaannya. Lagi-lagi, lebih kepada belas kasihan tetangga.

Tidak kita pungkiri bahwa zaman sekarang, profesi guru bukanlah lagi profesi dihormati seperti orang tua kita dahulu. Guru hanyalah profesi yang bisa dibanggakan di lisan saja, sebagai pemanis ucapan untuk mengundang simpati orang. Salah satu penyebabnya adalah bahwa seorang guru tidak bisa lagi 100% mendedikasikan dirinya untuk pendidikan. Pikiran harus terbagi dengan bagaiman cara memenuhi nafkah keluarga.

Oleh karena itu tidak heran jika banyak kejadian guru mulai abai dengan siswanya, atau kalaupun masih peduli, hanya sebatas aturan formal di sekolah saja. Disisi lain, siswa mulai kehilangan panutannya, bahkan justru sebagian orang tua sendiri yang mengajarkan untuk tidak menghormati gurunya. Ini menjadi semacam lingkaran setan yang tidak kunjung ketemu ujungnya.
Tentu saja tidak sesederhana itu kita mencari solusinya.

Yang ingin penulis sampaikan di sini tidak lain hanyalah sepenggal kisah tentang guru yang galau dengan kehidupannya. Tulisan ini sekadar menambah deretan panjang tentang keluh kesah guru yang dari waktu ke waktu terus bertambah.

Walaupun demikian, masih banyak insan mulia yang dengan sabar terus mendidik generasi muda bangsa ini. Mereka diam, mereka "menerima" apa adanya dengan ikhlas. Tapi sebagai bangsa yang besar tidakkah kita tergerak memikirkan nasib mereka?



Bersambung.
Penyebab Jenuh Blogging
Lihat Detail

Penyebab Jenuh Blogging

Assalamu ’alaikum. Setelah sekian lama tidak update Blog ini ada rasa khawatir bahwa ini akan menjadi hal yang buruk jika dibiarkan. Oleh ka... Baca Selengkapnya...
Artikel
Assalamu’alaikum. Setelah sekian lama tidak update Blog ini ada rasa khawatir bahwa ini akan menjadi hal yang buruk jika dibiarkan. Oleh karena itu admin ingin menyampaikan bahwa blog ini masih tetap aktif khususnya untuk jasa pembuatan RPP untuk rekan-rekan guru sekalian.

Penyebab Jenuh Blogging
Jenuh Blogging
Ada beberapa alasan mengapa saya tidak bisa update blog ini, antara lain banyaknya kesibukan sebagai tenaga pengajar di salah satu SMK swasta di kalimantan timur. Dengan jadwal mengajar yang cukup padat, sehingga kesempatan untuk membuka dashboard Blog pun tidak kunjung terpikirkan. Hehe .. sebenarnya ini alasan klasik seorang blogger yang memang biasa kita dengar, khususnya blogger yang sudah bertahun-tahun malang melintang di dunia Blogging, mungkin juga bisa dikatakan sebagai titik jenuh dalam perjalanan ngeblog.

Benar sekali alasan kedua adalah “jenuh” atau mungkin kata kasarnya “malas” kali ya. Hehe … karena bosan dengan dunia blogging yang tidak kunjung naik traffiknya.. Ada rasa ingin menelantarkan blog ini, namun Alhamdulillah, walaupun tidak seberapa banyak, Blog ini mulai membuahkan “hasil” (walaupun masih sedikit). Hal inilah yang memotivasi saya untuk menulis artikel ini. Tentunya saya berharap artikel ini bisa mengingatkan saya kembali agar menjadi lebih disiplin dalam mengelola blog-blog saya.

Untuk diketahui rekan-rekan sekalian selama ini saya sendirian mengelola beberapa blog saya, sehingga agak kewalahan juga untuk bisa konsisten dalam membuat konten blog, ya, ini alasan ketiga. Terutama dalam memenuhi kebutuhan pesanan RPP makanya sebagian saya tolak karena merasa tidak sanggup mengerjakannya. Untuk masalah ini baru-baru ini saya “mengangkat” asisten untuk memenuhi order RPP ini, yang dia kebetulan saudara saya sendiri. Sehingga kedepannya saya bisa membagi waktu, tenaga dan pikiran untuk development blog ini.

Saya menyadari bahwa ternyata Blog ini memiliki potensi cukup bagus baik untuk hobi pribadi maupun untuk finansial saya. Oleh karena itu kedepannya lebih serius dalam mengelola blog ini. Perlu diketahui saya ngeblog aktif sejak 2012, dengan berbagai macam model blog dan yang sampai saat ini tinggal 2 yang aktif saya pantau. Ternyata benar kata para master blogger, bahwa mengelola blog itu butuh kerja keras, disiplin dan kesabaran. Hingga akhirnya blog ini bisa menghasilkan rupiah demi rupiah butuh pembelajaran 2-3 tahun bagi saya.

Setelah membaca beberapa artikel mengenai ngeblog dan trik-triknya khususnya artikel yang dibuat oleh mas sugeng (blogger yang saya pakai template-nya ini), cukup memotivasi saya untuk menulis kembali. Terima kasih atas kunjungan rekan-rekan semua, mudah-mudahan “cerita” singkat saya di atas bisa bermanfaat, khususnya bagi rekan- rekan blogger juga yang mungkin merasakan hal yang sama dengan saya. Saya berharap bisa saling memotivasi dalam kebaikan.
Semakin Mahal Tapi Tidak Bermutu
Lihat Detail

Semakin Mahal Tapi Tidak Bermutu

Infodunia-Pendidikan.blogspot.com. Pengamat pendidikan Darmaningtyas mengatakan, ada beberapa yang menjadi hambatan pendidikan di Indonesia... Baca Selengkapnya...
Artikel
Infodunia-Pendidikan.blogspot.com. Pengamat pendidikan Darmaningtyas mengatakan, ada beberapa yang menjadi hambatan pendidikan di Indonesia yaitu biaya yang makin mahal, akses masyarakat miskin makin sulit, dan peran negara dalam pendanaan menurun.



pendidikan mahal
Pendidikan Mahal tidak mutu

 "sekarang pendidikan makin mahal tapi enggak bermutu," kata Darmaningtyas dalam sebuah diskusi di Hotel Mega Matra, Matraman Jakarta, Sabtu (8/11).

Darmaningtyas menegaskan, di daerah banyak terjadi gedung rusak dan kekurangan guru. Itu juga perlu jadi perhatian pemerintah. Serta adanya hambatan di daerah karena kurangnya distribusi.

"Kurangnya distribusi seperti transportasi dan komunikasi," ujarnya.

Dia juga menolak atau tidak setuju akan adanya ujian nasional. Menurutnya lebih baik ada pemetaan yaitu dengan melihat kemampuan siswa dan kelulusannya pun ditentukan oleh guru.

"Jadi kelulusan bisa ditentukan oleh guru," ujarnya. [Merdeka.com]

Tidak mengherankan sebenarnya jika statemen di atas sering kita dengar, dan bukan hanya para pengamat yang berpendapat demikian. Masyarakat umum pun dengan mudah merasakan demikian adanya. Terkadang Pendidikan dipandang sebagai lahan bisnis yang diciptakan oleh sistem kita sendiri. Pendidikan dijadikan sumber uang bagi pihak-pihak yang seharusnya tidak berpandangan demikian. Kita sebenarnya tidak menyalahkan pihak-pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari pihak pendidikan, seperti jasa bimbel, kursus dan semacamnya. Namun yang menjadi masalah adalah saat kesenjangan pendidikan yang diterima oleh masyarakat begitu lebar menganga antara kaum berada dengan kaum jelata.

Terkadang pendidikan dipandang sebagai formalitas demi mendapatkan selembar kertas yang disebut "ijazah". Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak institusi pendidikan yang dapat memberikan ijazah dengan sejumlah uang tanpa melalui proses yang benar. Hal semacam ini bahkan menjadi "tambang Emas" bagi indtitusi pendidikan "nakal". Namun justru keberadaan mereka sangat dicari-cari oleh sebagian masyarakat. Tentu ada permintaan maka akan ada yang menyediakan.

Akhirnya banyak bertebaran ijazah-ijazah yang diperoleh dengan cara nakal tersebut. Sehingga ketika dalam dunia persaingan terjadi ironi bahwa ijazah tersebut tidaksesuai dengan spesifikasi pemegangnya. Dalam dunia persaingan (yang profesional) tentu hal ini membawa efek buruk, imej negatif. Sehingga wajar bila berkesimpulan bahwa yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan kita hanyalah uang saja namun output tidak ada jaminan apa-apa. Ijazah bukan lagi sebuah pengakuan profesional namun sekadar lembaran formal untuk menghiasi berkas atau lamaran pekerjaan.

Pendidikan semakin mahal, masyarakat kecil susah mengecapnya. Sedangkan setelah keluar banyak uang pun, jaminan mutu tidak ada. Semoga kita bisa merubah keadaan seperti ini.
Pacaran Masuk Kurikulum 2013
Lihat Detail

Pacaran Masuk Kurikulum 2013

infodunia-pendidikan.blogspot.com. Assalamualaikum. Sebenarnya artikel kali ini telah saya muat dalam blog saya IslamyPersona . Namun karena... Baca Selengkapnya...
Artikel
infodunia-pendidikan.blogspot.com. Assalamualaikum. Sebenarnya artikel kali ini telah saya muat dalam blog saya IslamyPersona. Namun karena hal tersebut berkenaan dengan dunia pendidikan maka saya buat post senada untuk blog info dunia pendidikan.

Pacaran masuk Kurikulum 2013. Sebuah topik menarik yang belakangan ini hangat diperbincangkan masyarakat khususnya dunia maya. Dimana "Gaya pacaran sehat", terlihat dibahas pada buku paket "Pendidikan Jasmani Olahraga & Kesehatan" yang dikeluarkan pemerintah untuk SMU kelas XI kurikulum 2013. Di halaman 129 buku tersebut menampilkan materi seputar berpacaran yang sehat dengan visual gambar pemuda berpeci berduaan dengan pemudi berjilbab lebar. Sehingga memunculkan image bahwa pemuda dan pemudi Islam lazim melakukan pacaran (sehat?). Padahal jelas ini tidaklah benar dan bisa menyesatkan pola pikir generasi muda Islami.



Kendati kita mengapresiasi niat baik pihak pemerintah yang (mungkin) ingin menjelaskan mengenai hubungan yang sehat, mengajarkan dampak seks bebas dan semacamnya. Namun perlu memperhatikan etika, moralitas budaya bangsa yang notabene beragama Islam. Setidaknya mendiskusikannya dengan ulama yang dapat memberikan masukan bagaimana pandangan Islam mengenai pacaran. Sehingga tidak terjadi mis-komunikasi antar mata pelajaran. Bayangkan jika saat guru agama Islam mengajarkan untuk menjauhi perbuatan yang mendekati zina seperti berpacaran, tapi di sisi lain justru diperbolehkan berpacaran dengan tambahan label "sehat" dibelakangnya? Sedangkan dalam Islam aktifitas memandang lawan jenis dengan perasaan (syahwat) saja sudah "tidak sehat" maka bagaimana mungkin yang lebih dari itu bisa dijadikan sehat? Ini akan menjadikan siswa (Muslim) kebingungan dan berpotensi kehilangan arah dan identitas keislamannya.

Ketua MUI Bidang Pendidikan, Anwar Abbas mengatakan kurikulum yang diciptakan oleh kemendikbud harus memperhatikan keyakinan dan kepercayaan di Masyarakat. Adanya buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk kelas XI, yang didalamnya terdapat tema pacaran sehat dinilai tidak memberikan pendidikan bagi remaja atau siswa SMA yang ada.

Ia menjelaskan, dengan adanya pembelajaran tersebut berarti secara tidak langsung Pemerintah memperbolehkan atau melegalkan pacaran. Padahal secara spiritualitas pacaran sangat tidak sehat.

"Berarti sama saja mengatakan pacaran itu boleh. Tuhan aja melarang kenapa kemendikbud membolehkan?, tidak etis kemendikbud membuat kurikulum seperti itu karena bukan kapastiasnya. Itu kapasitas ulama," ujar Anwar Abbas saat dihubungi Republika Kamis (9/10).


Demikian Artikel kali ini mengenai Pacaran Masuk Kurikulum 2013. Semoga Bermanfaat.
infodunia-pendidikan.blogspot.com. Assalamualaikum. Sebenarnya artikel kali ini telah saya muat dalam blog saya IslamyPersona. Namun karena hal tersebut berkenaan dengan dunia pendidikan maka saya buat post senada untuk blog info dunia pendidikan.

Pacaran masuk Kurikulum 2013. Sebuah topik menarik yang belakangan ini hangat diperbincangkan masyarakat khususnya dunia maya. Dimana "Gaya pacaran sehat", terlihat dibahas pada buku paket "Pendidikan Jasmani Olahraga & Kesehatan" yang dikeluarkan pemerintah untuk SMU kelas XI kurikulum 2013. Di halaman 129 buku tersebut menampilkan materi seputar berpacaran yang sehat dengan visual gambar pemuda berpeci berduaan dengan pemudi berjilbab lebar. Sehingga memunculkan image bahwa pemuda dan pemudi Islam lazim melakukan pacaran (sehat?). Padahal jelas ini tidaklah benar dan bisa menyesatkan pola pikir generasi muda Islami.



Kendati kita mengapresiasi niat baik pihak pemerintah yang (mungkin) ingin menjelaskan mengenai hubungan yang sehat, mengajarkan dampak seks bebas dan semacamnya. Namun perlu memperhatikan etika, moralitas budaya bangsa yang notabene beragama Islam. Setidaknya mendiskusikannya dengan ulama yang dapat memberikan masukan bagaimana pandangan Islam mengenai pacaran. Sehingga tidak terjadi mis-komunikasi antar mata pelajaran. Bayangkan jika saat guru agama Islam mengajarkan untuk menjauhi perbuatan yang mendekati zina seperti berpacaran, tapi di sisi lain justru diperbolehkan berpacaran dengan tambahan label "sehat" dibelakangnya? Sedangkan dalam Islam aktifitas memandang lawan jenis dengan perasaan (syahwat) saja sudah "tidak sehat" maka bagaimana mungkin yang lebih dari itu bisa dijadikan sehat? Ini akan menjadikan siswa (Muslim) kebingungan dan berpotensi kehilangan arah dan identitas keislamannya.

Ketua MUI Bidang Pendidikan, Anwar Abbas mengatakan kurikulum yang diciptakan oleh kemendikbud harus memperhatikan keyakinan dan kepercayaan di Masyarakat. Adanya buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk kelas XI, yang didalamnya terdapat tema pacaran sehat dinilai tidak memberikan pendidikan bagi remaja atau siswa SMA yang ada.

Ia menjelaskan, dengan adanya pembelajaran tersebut berarti secara tidak langsung Pemerintah memperbolehkan atau melegalkan pacaran. Padahal secara spiritualitas pacaran sangat tidak sehat.

"Berarti sama saja mengatakan pacaran itu boleh. Tuhan aja melarang kenapa kemendikbud membolehkan?, tidak etis kemendikbud membuat kurikulum seperti itu karena bukan kapastiasnya. Itu kapasitas ulama," ujar Anwar Abbas saat dihubungi Republika Kamis (9/10).


Demikian Artikel kali ini mengenai Pacaran Masuk Kurikulum 2013. Semoga Bermanfaat.
Komentar Yohanes Surya tentang PR Matematika kelas 2 SD
Lihat Detail

Komentar Yohanes Surya tentang PR Matematika kelas 2 SD

infodunia-pendidikan.blogspot.com . Belakangan di dunia maya (internet) dihebohkan oleh kasus anak kelas dua SD (dramatisir dikit, hehe..). ... Baca Selengkapnya...
Artikel
infodunia-pendidikan.blogspot.com. Belakangan di dunia maya (internet) dihebohkan oleh kasus anak kelas dua SD (dramatisir dikit, hehe..). Dimana Anak ini diberikan PR 4x4x4x4x4x4 = ... x ... 
Sebenarnya ini masalah PR matematika SD tersebut sepele bagi sebagian orang namun belakangan entah kenapa jadi heboh, mungkin karena kedua pihak saling "kekeuh" dalam mempertahankan argumen masing-masing tanpa mau berpikiran sedikit lebih terbuka. Di bawah ini screenshoot dari PR anak tersebut.

heboh PR matematika SD
menurut saya pribadi sih, kebetulan juga sebagai pengajar matematika juga, semestinya jawaban tersebut tidak serta merta disalahkan, walaupun kita hendak mengajarkan konsep yang benar dan konsep tersebut masih belum dipahami oleh siswa. Guru bisa saja memberikan nilai separuh dari jawaban yang betul, sehingga sang anak juga jadi lebih termotivasi untuk mendapatkan nilai utuh dengan menggunakan konsep yang kita ajarkan. Karena jika hasil kerjanya serta merta tidak ada nilainya, khawatir justru siswa tersebut malah down. Namun inilah realita dunia pendidikan, salah dan benar itu terkadang tipis bedanya dan perlu kebijaksanaan untuk menerimanya.

Daripada saya kebanyakan komentar, mendingan saya kutip penjelasan dari Prof. Yohanes Surya saja deh. hehe.. silakan simak.

Prof. Yohanes Surya

Lewat laman Facebooknya, profesor yang aktif dalam berbagai pelatihan Matematika dan Fisika GASING (Gampang Asyik dan Menyenangkan) ini menjelaskan perbedaan 6 x 4 dan 4 x 6.

Dia memberikan gambaran jeruk dalam kotak. Berikut ini penjelasannya:

Berapa jeruk dalam 2 kotak berisi masing-masing 4 jeruk?
Jawabnya adalah 4 jeruk + 4 jeruk

Kalimat Berapa jeruk dalam 2 kotak berisi masing-masing 4 jeruk ?
boleh ditulis

2 kotak x 4 jeruk/kotak =

disingkat

2 x 4 jeruk =

Jadi

2 x 4 jeruk = 4 jeruk + 4 jeruk

Selanjutnya kita tulis
2 x 4 = 4 + 4 (kesepakatan)

Dengan kesepakatan itu kita boleh menulis :
6 x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4
4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6

Kesimpulan:

Ketika menghitung 6 x 4 kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 6 kotak berisi masing-masing 4 jeruk. Jadi 6 x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4

Ketika menghitung 4 x 6 kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 4 kotak berisi masing-masing 6 jeruk. Jadi 4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6

Dengan logika kotak dan jeruk ini, lebih mudah bagi kita untuk mengerti tidak hanya soal-soal cerita perkalian tetapi juga berbagai operasi matematika seperti 28:7 = atau 4a + 4b = 4 (a + b) dsb.


Nah demikianlah artikel kali ini mengenai Komentar Yohanes Surya tentang PR Matematika kelas 2 SD. semoga bermanfaat.
Ceritaku : Tantangan Seorang Guru
Lihat Detail

Ceritaku : Tantangan Seorang Guru

Info Dunia Pendidikan -Artikel Ceritaku : tantangan seorang guru ini adalah artikel pembuka dari blog ini. Menjadi seorang guru atau pendid... Baca Selengkapnya...
Artikel
Info Dunia Pendidikan-Artikel Ceritaku : tantangan seorang guru ini adalah artikel pembuka dari blog ini. Menjadi seorang guru atau pendidik merupakan cita-cita bagi sebagian anak, bagi sebagian seorang. Ketika masih kecil, mungkin sebagian kita ketika ditanya "ingin jadi apa nanti?", akan menjawab "jadi guru". Namun Benarkah ini merupakan keinginan kita setelah dewasa? Sayang sekali sebenarnya saya bukan salah satu anak yang menjawab begitu. Namun ketika dewasa ternyata nasib membawa kepada profesi guru :)

Realita kadang tak seindah apa yang dibayangkan, ketika anak-anak diberikan "gambaran" begitu mulianya sang guru, namun ketika telah masuk ke dalam dunia pendidikan, semua gambaran tersebut berganti. sosok guru hanyalah sebagai sebuah "pekerjaan untuk bisa dapat uang." Maka tidak heran jika anak kuliahan diarahkan untuk menjadi guru agar mudah mendapat pekerjaan, pasti bekerja, tidak menganggur, peluang jadi PNS besar. Namun setelah dijalani, ternyata bekerja sebagai guru honor, uang minim, waktu terbuang banyak, akhirnya merasa pendapatan tidak sebanding dengan apa yang diharapkan. Ujung-ujungnya menjadi guru hanya karena "terjebak" oleh titel.Terjebak karena sudah Kuliah di jurusan keguruan.

Terjebak karena merasa sayang dengan gelar yang telah didapatkan yang susah payah diusahakan bertahun-tahun. Dengan kata lain, terjebak menjadi guru. Kira-kira begitulah yang saya rasakan awal-awal menjadi seorang "guru". Saya menyadari bahwa ada yang salah dengan motivasi ini. Namun tentu saja semua ada hikmahnya. Bukan sekadar menjadi seorang yang bicara dihadapan murid. Namun menjadi figur yang dituntut bijaksana di setiap kondisi. pandai membagi waktu dan lainnya.

Seorang guru dituntut menjadi seorang "pendidik" namun jika motivasi salah, maka tentu predikat "pendidik" itu tidak bisa lagi disematkan pada seorang guru (senior sekalipun). Terlebih dizaman serba instan sekarang. Dimana yang muda sudah enggan hormat kepada yang tua. yang tua juga enggan peduli kepada yang muda.

sekian dulu artikel pembuka blog ini. Ceritaku : Tantangan seorang guru. Semoga bermanfaat.