Tampilkan postingan dengan label Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Bentuk-bentuk laporan keuangan
Lihat Detail

Bentuk-bentuk laporan keuangan


Laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan rugi laba dan laporan perubahan modal (MAdiasmo,1997).
1.    Neraca
Menurut Madiasmo (1997) Neraca adalah ikhtisar yang memberikan gambaran mengenai posisi keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu, yang disusun secara sistematis. Posisi keuangan adalah posisi aktiva, utang dan modal perusahaan pada saat atau tanggal tertentu (yaitu akhir periode akuntansi).
A.    Aktiva
Menurut Madiasmo (1997) aktiva merupakan sumber ekonomis perusahaan yang dinyatakan dengan satuan uang. Dimana aktiva dalam neraca dikelompokan menjadi :
A.1.   Aktiva lancar.
Akitva perusahaan yang berupa kas atau aktiva yang lain yang diharapkan dapat dicairkan menjadi kas, di jual atau dipakai habis dalam satu tahun atau dalam siklus kegiatan normal perusahaan, jika melampaui satu tahun (MAdiasmo,1997). Menurut Madiasmo (1997) termasuk dalam kelompok aktiva lancar antara lain :
Kas, surat-surat berharga yang dapat segera di jual, deposito jangka pendek, piutang usaha, piutang wesel yang akan jatuh tempo dalam satu tahun, piuatang lain-lain yang dapat ditagih dalam satu tahun, persediaan barang dagangan, bahan baku, bahan pembantu, barang dalam proses dan barang jadi, biaya yang dibayar dimuka (persekot biaya), misalnya premi asuransi, alat tulis dan keperluan kantor.
A.2.   Investasi jangka panjang
Menurut Madiasmo (1997), investasi jangka panjang adalah investasi perusahaan dalam jangka panjang dalam bentuk :
1.      Saham, obligasi dan surat-surat berharga yang lain,.
2.      aktiva lain.
3.      Aktiva tetap berwujud yang  meliputi aktiva yang tidak dapat disusutkan dan aktiva yang dapat disusutkan
A.3.   Aktiva tidak berwujud
Menurut Madiasmo (1997) aktiva tidak berwujud adalah hak-hak istimewa atau posisi yang menguntungkan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan.
A.4.   Aktiva lain- lain
Menurut Madiasmo (1997) aktiva perusahaan yang tidak dapat dikelompokan ke dalam aktiva lancar, investasi jangka panjang, aktiva tetap berwujud dan aktiva tidak berwujud dimasukan sebagai kelompok aktiva lain-lain. Seperti piutang kepada pemegang saham.
B.  Utang
Menurut Madiasmo (1997) utang atau kewajiban adalah pengorbanan ekonomis yang wajib dilakukan perusahaan pada masa yang akan datang dalam bentuk penyerahan aktiva atau pemberian jasa yang disebabkan oleh transaksi pada masa sebelumnya.
Adapun menurut Madiasmo (1997) utang dalam neraca dikelompokan sebagai berikut :
B.1.    Utang lancar adalah utang perusahaan yang diharapkan dapat diselesaikan dalam jangka  waktu paling lama satu periode akuntansi (satu tahun).seperti utang usaha, utang biaya, utang pendapatan dan utang bank.  
B.2.    Utang jangka panjang adalah utang perusahaan yang jangka  waktu pelunasannya lebih dari satu periode akuntansi. Seperti utang obliigasi dan utang hipotek.
B.3.    Utang lain-lain yaitu utang kewajiban yang tidak dapat dikelompokan dalam utang lancar dan utang jangka panjang. Seperti pendapatan yang ditangguhkan, uang muka jaminan jangka panjang dan utang kepada direksi.
C.  Modal :
 Menurut Madiasmo (1997) modal merupakan bagian hak milik dalam perusahaan yaitu selisih antara aktiva dan utang yang ada.



2.    Laporan rugi – laba
Menurut Munawir (2000) laporan rugi-laba merupakan suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi-laba yang diperoleh suatu perusahaan selama periode tertentu.
Adapun susunan laporan rugi-laba menurut Munawir (2000) adalah sebagai berikut:
A.    Bagian pertama menunjukan penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok perusahaan diikuti dengan harga pokok dari barang yang di jual sehingga diperoleh laba kotor.
B.     Bagian kedua menunjukan biaya-biaya operasional yang terdiri dari biaya penjualan dan biaya umum.
C.     Bagian ketiga menunjukan hasil-hasil yang diperoleh di luar operasi pokok perusahaan yang diikuti dengan biaya-biaya yang terjadi di luar usaha pokok perusahaan.
D.    Bagian keempat menunjukan laba atau rugi yang insidentil sehingga akhirnya diperoleh laba bersih sebelum pajak pendapatan.

Bentuk laporan rugi –laba
Bentuk dari laporan rugi-laba menurut Munawir (2000) yang biasa digunakan adalah sebagai berikut :
1.      Bentuk single step, dengan menggabungkan semua penghasilan menjadi satu kelompok dan semua biaya dalam satu kelompok, sehingga untuk menghitung rugi-laba bersih hanya memerlukan satu langkah yaitu mengurangi total biaya terhadap total penghasilan. 
2.      Bentuk Multiple step
Dalam bentuk ini dilakukan pengelompokan yang lebih teliti sesuai dengan prinsip yang digunakan secara umum.

3.    Hubungan neraca dengan laporan rugi laba
Untuk mengetahui tendensi atau trend bertambahnya atau berkurangnya modal perusahaan, hanya dapat diketahui dari neraca, tetapi untuk mengetahui kemajuan atau sebab-sebab perubahan modal diperlukan laporan rugi laba (Munawir,2000).
Bagi calon kreditor untuk mengetahui jaminan yang disediakan oleh perusahaan untuk membayar hutang-hutang, dapat di lihat dari neraca perusahaan tersebut. Tetapi untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk membayar bunga modal yang di pinjam sangat tergantung pada keuntungan yang akan  datang dan hal ini hanya dapat diketahui dari laporan rugi laba (Munawir,2000).
Dapat ditarik kesimpulan neraca dan laporan rugi laba mempunyai hubungan yang erat satu sama lain dan tidak dapat berdiri sendiri.
Pengertian Pendapatan
Lihat Detail

Pengertian Pendapatan


Kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh keuntungan adalah hal yang penting untuk dapat melanjutkan operasi perusahaan. Keuntungan yang dihasilkan oleh suatu badan usaha adalah suatu ukuran keberhasilan manajer, investor dan kreditor yang menggunakannya untuk mengevaluasi prospek perusahaan dimasa yang akan datang.
Oleh karena itu salah satu bagian terpenting dalam proses akuntansi adalah penentuan, pengukuran dan pengakuan pendapatan serta pengukuran pencatatan ekonomi yang berhubungan dengan pendapatan perusahaan. Kieso dan Wegandt (1995, hal.56) memberikan pengertian bahwa pendapatan adalah:
"Arus masuk atau penambahan lain atas harta suatu kesatuan atau penyelesaian suatu kewajiban (atau kombinasi keduanya) selama satu periode dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa atau aktivitas lain yang merupakan operasi utama kesatuan tersebut.”
Sedangkan dalam PSAK No. 23 Ikatan Akuntan Indonesia (1996, hal.23.3)
menyatakan bahwa:
“Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal".
Pendapatan merupakan pos yang penting dari laporan keuangan dan mempunyai penggunaan yang bermacam-macam untuk berbagai tujuan. Penggunaan informasi pendapatan yang paling utama adalah untuk tujuan pengambilan keputusan, baik itu keputusan untuk pembayaran deviden, keputusan investasi dan keputusan penting lainnya.
Menurut Ralph Estes (1996, hal.119) pendapatan adalah:
“Arus masuk sumber daya kedalam suatu perusahaan dalam suatu periode
dari penjualan barang atau hasil penjualan jasa, pendapatan tidak mencakup
sumber daya yang diterima dari sumber-sumber selain dari operasi, seperti
penjualan aktiva tetap, penerbitan saham atau pinjaman".
Pendapatan menurut hukum pajak ada1ah latar belakang timbulnya pendapatan bagi negara yang timbul akibat adanya hak dan kewajiban pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 tahun 1994 (1995, hal 26) tentang pajak penghasilan (PPh), pendapatan atau penghasilan dirumuskan sebagai berikut:
"Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun".
Sedangkan menurut Soehardi Sigit (1981, hal.44) penghasilan atau pendapatan adalah sebagai berikut
"Pendapatan adalah kebalikan dari biaya. Tiap-tiap memperoleh penghasilan atau pendapatan tentu disertai dengan wujud penerimaan benda, harta kekayaan atau hak. Tidak ada sesuatu pendapatan bertambah tidak dengan mengakibatkan pertambahan pada aktiva, apakah pertambahan itu kedalam kas, tagihan, wesel tagih ataupun hak".
Pengertian pendapatan yang lain menurut Zaki Baridwan (1992, hal.10):
“Pendapatan adalah aliran masuk harta-harta (aktiva) yang timbul dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama satu periode tertentu".
Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan adalah Jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas.
Pendapat lain tetang pengertian pendapatan seperti yang disebutkan oleh Niswonger dan Fess (1993, hal 9) adalah: "Pendapatan dihitung dari jumlah yang dibebankan kepada langganan untuk barang-barang yang diserahkan atau jasa-jasa yang diberikan".
Dari definisi-definisi dan pendapat diatas jelaslah bahwasannya pendapatan berasal dari penyerahan barang atau jasa serta aktivitas usaha lainnya dalam satu periode.
Proses Penyusunan Laporan Keuangan
Lihat Detail

Proses Penyusunan Laporan Keuangan


Sebagai suatu komoditi, laporan keuangan yang dihasilkan sendiri oleh manajemen, yang kegunaannya akan dikonsumsi oleh banyak pihak, harus disajikan dengan cara-cara dan prosedur-prosedur tertentu berdasarkan suatu pedoman yang berlaku. Jadi, penyajian laporan keuangan tidak bisa secara operasional tanpa mengikuti aturan tersebut. Seuatu penyelenggaraan sistem adanya catatan akuntansi harus mencakup keseluruhan aktifitas yang dibutuhkan untuk memberikan kepada manajemen berbagai macam informasi untuk perencanaan, pengendalian dan pelaporan keadaan serta operasi perusahaan.
Laporan keuangan pada dasarnya adalah suatu rangkuman dari keseluruhan aktifitas yang dapat menaikkan ataupun menurunkan berbagai aktiva, kewajiban, dan modal perusahaan selama suatu peri ode tertentu. Proses penyajian terdiri dari dua tahap. Tahap pertama disebut tahap pencatatan (recording phase) sedangkan lahar kedua adalah tahap pengikhtisaran (summmarizing phase).
Masing-masing tahap saling berkaitan dan tidak bisa saling mendahului karena tidak mungkin laporan keuangan disusun tanpa adanya suatu aktifitas. Tahap-tahap ini yang dikenal dengan istilah proses akuntansi atau siklus akuntansi. Pada tahap pencatatan, ada tiga langkah yang dijalani, yaitu:
a. Analisis atau transaksi dan kejadian-kejadian terpilih lainnya tidak semua transaksi akan dicatat, namun harus dilakukan seleksi terhadap suatu kejadian, apakah akan diakui dalam laporan keuangan atau tidak. Setelah itu transaksi tcrpilih tersebut didokumentasikan, akan dijadikan dasar pembuatan catatan asli dari setiap transaksi.
b. Pencatatan transaksi. Dengan berdasarkan dokumen-dokumen diatas, masing-masing transaksi dicatat secara berurutan (kronologis) didalam buku harian. Buku harian yang digunakan dapat memakai buku harian khusus atau buku harian umum
c. Pemindahan transaksi kedalam buku besar. Setelah masing-masing transaksi dicatat dibuku harian, selanjutnya dimasukkan kedalam akun-akun yang sesuai pada buku besar dan buku tambahan.
Selanjutnya, pada tahap pengikhtisaran, rangkaian langkah yang dilakukan adalah:
a. Pembuatan neraca sisa dari akun-akun buku besar. Neraca sisa menyajikan suatu ringkasan informasi yang diklasifikasikan dibuku besar, dan juga merupakan suatu pengkoreksian umum atas keakuratan pencatatan dan pemindahan ke buku besar.
b. Penyesuaian atas beberapa akun-akun agar dengan tanggal bersangkutan.
Sebelum laporan keuangan dapat disusun semua informasi yang dapat dipertanggung jawabkan dan belum tercatat mesti ditetapkan. Penyesuaian harus dibukukan (pada kertas kerja) sehingga akun-akun akan sudah sesuai dengan keadaan saat bersangkutan sebelum penyusunan laporan keuangan dilaksanakan.
c. Penyusunan laporan keungan Intormasi mengenai ikhtisar kegiatan pada kertas kerja termasuk perubahan-perubahan dalam posisi keuangan akan menjadi dasar disusunnya laporan keuangan untuk periode berjalan.
d. Penutupann akun-akun yang bersifat sementara. Seluruh saldo-saldo akun persediaan (bila perusahaan menggunakan sistem persediaan periodik), diutup akun-akun ikhtisarkan yang bersangkutan "dan selanjutnya dipindahkan ke akun kekayaan pemilik.
e. Pembuatan neraca sisa setelah penutup. Dilakukan untuk menentapkan kesamaan antara debet dan kredit setelah pembukuan ayat-ayat penyesuaian dan penutup.
f. Pembalikan akun-akun tertentu. Langkah ini tidak harus ditempuh, namun kerap kali diperlukan sebagai suatu cara untuk memudahkan pencatatan dan penyesuaian pada periode selanjutnya. Adapun akun-akun ditangguhkan (deferred item) dan akun-akun antisipasi (accured item).
Prosedur-prosedur ini merupakan suatu siklus lengkap yang lazimnya dilaksanakan dalam setiap periode fiskal.
Rasio Keuangan dan Penggunaan Rasio Keuangan oleh Manajer dan Investor untuk Mengevaluasi Profitabilitas
Lihat Detail

Rasio Keuangan dan Penggunaan Rasio Keuangan oleh Manajer dan Investor untuk Mengevaluasi Profitabilitas


Keuangan adalah kegiatan yang berhubungan dengan penentuan investasi jangka panjang sebuah perusahaan, mendapatkan dana untuk membayar, dan memimpin kegiatan keuangan harian sebuah perusahaan.
Fungsi keuangan yaitu merencanakan, memperoleh dan mengelola dana perusahaan untuk mencapai tujuannya dengan cara seefektif mungkin.
Rasio finansial atau Rasio Keuangan merupakan alat analisis keuangan perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada pos laporan keuangan (neraca, laporan laba/rugi, laporan aliran kas). Rasio menggambarkan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain.
Analisis rasio dapat digunakan untuk membimbing investor dan kreditor untuk membuat keputusan atau pertimbangan tentang pencapaian perusahaan dan prospek pada masa datang. Analisis rasio keuangan menggunakan data laporan keuangan yang telah ada sebagai dasar penilaiannya. Meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu, analisis rasio keuangan dimaksudkan untuk menilai risiko dan peluang pada masa yang akan datang. Pengukuran dan hubungan satu pos dengan pos lain dalam laporan keuangan yang tampak dalam rasio-rasio keuangan dapat memberikan kesimpulan yang berarti dalam penentuan tingkat kesehatan keuangan suatu perusahaan. Tetapi bila hanya memperhatikan satu alat rasio saja tidaklah cukup, sehingga harus dilakukan pula analisis persaingan-persaingan yang sedang dihadapi oleh manajemen perusahaan dalam industri yang lebih luas, dan dikombinasikan dengan analisis kualitatif atas bisnis dan industri manufaktur, analisis kualitatif, serta penelitian-penelitian industri.




Jenis-jenis Rasio Keuangan
Secara umum rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.      Rasio Likuiditas.
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin kewajiban-kewajiban lancarnya. Rasio ini antara lain Rasio Kas (cash ratio), Rasio Cepat (quick ratio), Rasio Lancar (current ratio)
2.      Rasio Pengungkit/leverage.
Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat pengelolaan sumber dana perusahaan. Beberapa rasio ini antara lain Rasio Total Hutang terhadap Modal sendiri, Total Hutang terhadap Total Asset, TIE Time Interest Earned.
3.      Rasio Efesiensi/Perputaran.
Rasio perputaran digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola asset-assetnya sehingga memberikan aliran kas masuk bagi perusahaan. Rasio ini antara lain Rasio Perputaran Persediaan, Perputaran Aktiva Tetap, dan Total Asset Turnover.
4.      Rasio Profitabilitas.
Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Rasio ini antara lain: GPM (Gross Profit Margin), OPM(Operating Profit Margin), NPM (Net Profit Margin), ROA (Return to Total Asset), ROE (Return On Equity).
5.      Rasio Nilai Pasar.

Rasio yang mengukur harga pasar relatif terhadap Nilai Buku perusahaan. Rasio ini antara lain: PER (Price Earning Ratio), Devidend Yield, Devideng Payout Ratio, PBV (Price to Book Value)
BIAYA BERSAMA
Lihat Detail

BIAYA BERSAMA


A.      Definifisi Biaya Bersama
Biaya bersama diartikan sebagai biaya overhead bersama (joint overhed cost) yang dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya berdasarkan pesanan maupun yang kegiatan produksinya dilakukan secara massa. Biaya produk bersama (joint personal cost) adalah biaya yang dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Biaya produk bersama terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
Pengertian pertama biaya bersama tersebut diatas disebut biaya bergabung (common cost), sedangkan pengertian kedua disebut biaya bersama (joint cost). Biaya bergabung adala biaya-biaya untuk memproduksi dua atau lebih produk yang terpisah (tidak diolah bersama) dengan fasilitas sama pada saat yang bersamaan. Biaya bergabung dan biaya bersama mempunyai satu perbedaan pokok yaitu bahwa biaya bergabung dapat diikuti jejak alirannya ke berbagai produk yang terpisah tersebut atas dasar sebab akibat, atau dengan cara menelusuri jejak penggunaan fasilitas.

B.       Karakteristik Produk Bersama, Produk Sampingan, dan Produk Sekutu
            Produk bersama dan produk sekutu memiliki karakteristik sebagai berikut. 
a.       Produk bersama dan produk sekutu merupakan tujuan utama kegiatan produksi.
b.      Harga jual produk bersama atau produk sekutu relatif tinggi bila dibandingkan dengan produk sampingan yang dihasilkan pada saat yang sama.
c.       Dalam mengolah produk bersama tertentu, produsen tidak dapat menghindarkan diri untuk menghasilkan semua jenis produk bersama, jika ia ingin memproduksi hanya salah satu diantara produk bersama tersebut. Dalam perusahaan daging kalengan misalnya, setiap kali penyembelihan sapi, akan diperoleh daging, kulit, dan lemak. Jika produsen hanya ingin mengolah daging saja, tidak bisa tidak ia harus memanfaatkan kulitnya (dibuat makanan atau dijual dalam bentuk kulit).
Produk sampingan dapat digolongkan sesuai dengan dapat tidaknya produk tersebut dijual pada saat terpisah dari produk utama (main product).
a.       Produk sampingan yang dijual setelah terpisah dari produk utama, tanpa memerlukan pengolahan lebih lanjut.
b.       Produk sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah dari produk utama.




BIAYA TENAGA KERJA
Lihat Detail

BIAYA TENAGA KERJA


Definisi tenaga kerja

Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk. Biaya tanaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut.

A.      Penggolongan kegiatan dan biaya tenaga kerja
 Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi kedalam 3 fungsi pokok produksi,pemasaran,dan administrasi.
Contoh biaya tenaga kerja yang termasuk dalam tiap golongan tersebut.
a.       Biaya tenaga kerja produksi : gaji karyawan,biaya kesejahteraan karyawan pabrik,upah lembur karyawan pabrik,upah mandor pabrik,gaji manajer pabrik.
b.       Biaya tenaga kerja pemasaran: upah karyawan pemasaran,biaya kesejahteraan karyawan pemasaran,biaya komisi pramuniaga,gaji manajer pemasaran.
a.       Biaya tenaga kerja administrasi dan umum : gaji karyawan bagian akuntansi, bagian personalia , bagian secretariat, biaya kesejahteraan karyawan bagian akuntansi, biaya kesejahteraan karyawan bagian personalia, biaya kesejahteraan karyawan bagian secretariat.
B.      Penggolongan menurut kegiatan departemen - departemen dalam perusahaan
Biaya tenaga kerja digolongkan sesuai dengan bagian - bagian yang dibentuk dalam perusahaan tersebut. Tenaga kerja yang bekerja didepartemen - departemen non produksi diglolongkan pula menurut departemen tempat kerja mereka. Penggolongan semacam ini dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya tenaga kerja yang terjadi dalam tiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan. Misalnya : departemen produksi suatu perusahaan kertas terdiri dari 3 departemen yaitu bagian pulp, bagian kertas dan bagian penyempurnaan. Bagian nonproduksi : tenaga kerja bagian akuntansi, biaya tenaga kerja bagian personalia, dll.
C.       Penggolongan menurut jenis pekerjaan
Dalam suatu departemen, tenaga kerja dapat digolongkan menurut jenis sifat pekerjaannya . Biaya tenaga kerja semacam ini digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah standar kerja. Dengan demikian biaya tenaga kerja digolongkan menjadi : upah mandor, upah penyelia, upah operator.
D.       Penggolongan menurut hubungan dengan produk
Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung.

Akuntansi Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja dibagi ke dalam 3 golongan besar, yaitu :
1. Gaji dan upah regular yaitu jumlah gaji dan upah bruto dikurangi dengan potongan -potongan seperti pajak penghasilan dan biaya asuransi.
2. Premi lembur
3. Biaya -biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja.


Gaji dan upah
                Cara penghitungan upah karyawan dalam perusahaan salah satunya adalah dengan mengalikan tariff upah dengan jam kerja karyawan. Dengan demikian untuk menentukan upah seorang karyawan perlu dikumpulkan data jumlah jam kerjanya selama periode tertentu. Dalam perusahaan yang menggunakan harga pokok pesanan, dokumen pokok untuk mengumpulkan waktu kerja karyawan adalah kartu hadir ( clock card) dan kartu jam kerja (job time ticket).
                Kartu hadir adalah suatu catatan yang digunakan untuk mencatat jam kehadiran karyawan yaitu jangka waktu antara jam hadir dan jam meninggalkan perusahaan. Sedangkan kartu jam kerja untuk mencatat pemakaian waktu hadir karyawan pabrik dalam mengerjakan berbagai pekerjaan atau produk. Kartu jam kerja biasanya hanya digunakan untuk mencatat pemakaian hadir tenaga kerja langsung di pabrik
Kartu jam kerja untuk setiap karyawan kemudian disesuaikan dengan waktu yang tercantum dalam kartu jam hadir dan dikirim ke bagian akuntansi biaya untuk keperluan distribusi gaji dan upah tenaga kerja langsung.

Insentif
 nsentif dapat didasarkan atas waktu kerja, hasil yang diproduksi atau kombinasi diantara keduanya.
Ada beberapa cara pemberian insentif :
a. Insentif satuan dengan jam minimum ( Straight Piecework with a Guaranteed hourly Minimum Plan )
Karyawan dibayar atas dasar tarif per jam untuk menghasilkan jumlah satuan keluaran (output) standar. Untuk hasil produksi yang melebihi jumlah standar tersebut karyawan menerima jumlah upah tambahan sebesar jumlah kelebihan satuan keluaran di atas standar kali tariff upah per satuan. Tariff upah per satuan dihitung dengan cara membagi upah standar dengan satuan standar jam.
b. Taylor Differential Piece Rate Plan
Cara pemberian insentif ini adalah semacam straight piece rate plan yang menggunakan tariff tiap potong yang lain untuk jumlah keluaran rendah per jam dan tariff tiap potong yang lain untuk jumlah keluaran tinggi per jam.
c. Premi lembur
Dalam perusahaan, jika karyawan bekerja lebih dari 40 jam satu minggu, maka mereka berhak menerima uang lembur dan premi lembur.premi lembur dihitung sebesar 50 % dari tariff upah.
Perlakuan terhadap premi lembur tergantung atas alasan-alasan terjadinya lembur tersebut. Premi lembur dapat ditambahkan pada upah tenaga kerja langsung dan dibebankan pada pekerjaan atau departemen tempat terjadinya lembur tersebut. Perlakuan ini dapat dibenarkan bila pabrik telah bekerja pada kapasitas penuh dan pelanggan / pemesan mau menerima beban tambahan karena lembur tersebut.
Premi lembur dapat diperlakukan sebagai unsur biaya overhead pabrik atau dikeluarkan sama sekali dari harga pokok produk dan dianggap sebagai biaya periode ( period expenses ). Perilaku ini hanya dapat dibenarkan jika lembur tersebut terjadi karena ketidakefisienan atau pemborosan waktu





BIAYA BAHAN BAKU
Lihat Detail

BIAYA BAHAN BAKU


A.      Unsur Biaya Yang Membentuk Harga Pokok Bahan Baku Yang Dibeli
Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi. Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari pembelian local, impor, atau dari pengolahan sendiri. Di dalam memperoleh bahan baku, perusahaan tidak hanya mengeluarkan biaya sejumlah harga beli bahan baku saja, tetapi juga mengeluarkan biaya – biaya pembelian, pergudangan, dan biaya – biaya perolehan lain.
B.      Sistem Pembelian Lokal Bahan Baku
Sitem pembelian local bahan baku melibatkan Bagian – bagian Produksi, Gudang, Pembelian, Penerimaan Barang dan Akuntansi. Dokumen sumber dan dokumen pendukung yang dibuat dalam transaksi pembelian local bahan baku adalah : surat permintaan pembelian, surat order pembelian, laporan penerimaan barang dan faktur dari penjual. Sistem pembelian local bahan baku terdiri dari :
1.       Prosedur pembelian bahan baku
Jika persediaan bahan baku yang ada digudang sudah mencapai jumlah tingkat minimum pemesanan kembali (reorder point), bagian gudang kemudian membuat surat permintaan pembelian (purchase requisition) untuk dikirimkan ke bagian pembelian.
2.       Prosedur order pembelian
Bagian pembelian melaksanakan pembelian atas dasar surat permintaan pembelian dari bagian gudang. Untuk pemilihan pemasok, bagian pembelian mengirimkan surat permintaan penawaran harga (purchase price quotation) kepada para pemasok, yang berisi permintaan informasi harga dan syarat – syarat pembelian dari masing – masing pemasok tersebut.
3.       Prosedur penerimaan bahan baku
Pemasok mengirimkan bahan baku kepada perusahaan sesuai dengan surat order pembelian yang diterimanya. Bagian penerimaan yang bertugas menerima barang, mencocokkan kualitas, kuantitas, jenis serta spesifikasi bahan baku yang diterima dari pemasok dengan tembusan surat order pembelian.
4.       Prosedur pencatatan bahan baku di bagian gudang
Bagian penerimaan menyerahkan bahan baku yang diterima dari pemasok kepada bagian gudang. Bagian gudang menyimpan bahan baku tersebut dan mencatat jumlah bahan baku yang diterima dalam kartu gudang (stock card) pada kolom “masuk”. Kartu gudang ini digunakan oleh Bagian gudang untuk mencatat mutasi tiap – tiap jenis barang gudang. Kartu gudang hanya berisi informasi kuantitas tiap – tiap jenis barang yang disimpan di gudang dan tidak berisi informasi mengenai harganya.
5.       Prosedur pencatatan utang yang timbul dari pembelian bahan baku
Bagian pembelian menerima faktur pembelian dari pemasok. Bagian pembelian memberikan tanda tangan di atas faktur pembelian, sebagai tanda persetujuan bahwa faktur dapat dibayar karena pemasok telah memenuhi syarat – syarat pembelian yang di tentukan oleh perusahaan.
C.      Metode Pencatatan Biaya Bahan Baku
Ada dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi : metode mutasi persediaan (perpetual inventory method) dan metode persediaan fisik (physical inventory method). Dalam metode mutasi persediaan, setiap mutasi bahan baku dicatat dalam kartu persediaan. Dalam metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan bahan baku dari pembeliaan saja yang dicatat, sedangkan mutasi berkurangnya bahan baku karena pemakaian tidak catat dalam kartu persediaan.
Metodepersediaan fisik adalah cocok digunakan dalam penentuan biaya bahan baku dalam perusahaan yang harga pokok produksinya dikumpulkan  dengan metode harga pokok proses. Metode mutasi persediaan adalah cocok digunakan dalam perusahaan yang harga pokok produksinya dikumpulkan dengan metode harga pokok pesanan.
1.       Metode identifikasi khusus (specific identification method). Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi tanda pada harga pokok persatuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Dalam metode ini, tiap – tiap jenis bahan baku yang ada di gudang jelas identitas harga pokoknya, sehingga setiap pemakaian bahan baku dapat diketahui harga pokok persatuannya secara tepat. Metode ini merupakan metode yang paling teliti dalam penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi, namun sering kali tidak praktis. Metode ini sangat efektif dipakai apabila bahan baku yang dibeli bukan merupakan barang standar dan dibeli untuk memenuhi pesanan tertentu.
2.       Metode masuk pertama, keluar pertama (First – in, First – out Method)
Metode masuk pertama, keluar pertama (metode MPKP) menentukan biaya bahan baku dengan anggapan bahwa harga pokok prsatuan bahan baku yang pertama masuk dalam gudang, digunakan untuk menentukan harga bahan baku yang pertama kali dipakai.
3.       Metode masuk terakhir, keluar pertama (last – in, first – out method)
Metode masuk terakhir, keluar pertama (metode MTKP) menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang terakhir masuk dalam persediaan gudang, dipakai untuk menentukan harga poko bahan baku yang pertama kali dipakai dalam produksi.
4.       Metode rata – rata bergerak (Moving Average Method)
Dalam metode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung harga pokok rata – ratanya, dengan cara membagi total harga pokok dengan jumlah satuannya. Bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung harga pokoknya dengan mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga pokok rata – rata per satuan bahan baku yang ada di gudang.
5.       Metode biaya standar
Dalam metode ini, bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu persediaan sebesar harga standard (standard price) yaitu harga taksiran yang mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Harga standard merupakan harga yang merupakan harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran tertentu.
6.       Metode rata – rata harga pokok bahan baku pada akhir bulan
Dalam metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan penghitungan harga pokok rata – rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang. Harga pokok rata – rata per satuan ini kemudian di gunakan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dalam bulan berikutnya.

D.      Masalah – masalah khusus yang berhubungan dengan bahan baku
Dalam bagian ini diuraikan akuntansi biaya bahan baku, jika dalam proses produksi terjadi sisa bahan (scrap materials), produk cacat (defective goods), dan produk rusak (spoiled goods).
1.       Sisa bahan (scrap materials)
Bahan yang mengalami kerusakan di dalam proses pengerjaannya disebut sisa bahan. Perlakuan terhadap sisa bahan tergantung dari harga jual sisa bahan itu sendiri. Jika harga jual sisa bahan rendah, biasanya tidak dilakukan pencatatan jumlah dan harganya sampai saat penjualannya. Tetapi jika harga jual sisa bahan tinggi, perlu dicatat jumlah dan harga jual sisa bahan tersebut dalam kartu persediaan pada saat sisa bahan diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang.
Jika di dalam proses produksi terdapat sisa bahan, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan hasil penjualan sisa bahan tersebut. hasil penjualan sisa bahan dapat diperlukan sebagai :
a.       Pengurangan biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut.
b.      Pengurangan terhadap biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.
c.       Penghasilan di luar usaha (other income)
2.       Produk Cacat (Defective Goods)
Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standard mutu yang telah ditentukan, tetapi dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat disempurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik.
Masalah yang timbul dalam produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya tambah untuk pengerjaan kembali (rework costs) produk cacat tersebut. jika produk cacat bukan merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses produksi, tetapi karena karakteristik pengerjaan pesanan tertentu, maka biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat di bebankan sebagai tambahan biaya produksi pesanan yang bersangkutan.
3.       Produk Rusak (Spoiled Goods)
Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standard mutu yang telah ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat di perbaiki menjadi produk yang baik. Produk rusak merupakan produk yang telah menyerap biaya bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.
Perlakuan terhadap produk rusak adalah tergantung dari sifat dan sebab terjadinya :
a.       Jika produk rusak terjadi karena sulitnya pengerjaan pesanan tertentu atau faktor luar biasa yang lain, maka harga pokok produk rusak dibebankan sebagai tambahan harga pokok produk yang baik dalam pesanan yang bersangkutan. Jika produk rusak tersebut masih laku dijual, maka hasil penjualannya diperlakukan sebagai pengurangan biaya produksi pesanan yang menghasilkan produk rusak tersebut.

b.      Jika produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk, maka kerugian yang timbul sebagai akibat terjadinya produk rusak dibebankan kepada produksi secara keseluruhan, dengan cara memperhitungkan kerugian tersebut di dalam tarif biaya overhead pabrik.     
DEPARTEMENTALISASI BIAYA OVERHEAD PABRIK
Lihat Detail

DEPARTEMENTALISASI BIAYA OVERHEAD PABRIK


A.      Pengertian Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik
Departementalisasi biaya overhead pabrik adalah pembagian pabrik ke dalam bagian- bagian yang disebut departemen atau pusat biaya (cost center) yang dibebani dengan biaya overhead pabrik. Dalam departementalisasi biaya overhead pabrik, tarif biaya overhead dihitung untuk setiap departemen produksi dengan dasar pembebanan yang mungkin berbeda di antara departemen- departemen produksi yang ada. Departementalisasi overhead pabrik memerlukan pembagian perusahaaan ke dalam departemen- departemen untuk memudahkan pengumpulan biaya overhead pabrik yang terjadi.
Departementalisasi biaya overhead pabrik bermanfaat untuk pengendalian biaya dan ketelitian penentuan harga pokok produk. Pengendalian biaya overhead pabrik dapat lebih mudah dilakukan dengan cara menghubungkan biaya dengan pusat terjadinya, sehingga dengan demikian akan memperjelas tanggungjawab setiap biaya yang terjadi dalam departemen tertentu.
B.      Langkah – langkah Penetuan Tarif Biaya Overhead Pabrik Per Departemen
Langkah – langkah penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adalah sebagai berikut :
1.       Penyusunan Anggaran Biaya Overhead Pabrik per Departemen
Dalam perhitungan tarif biaya overhead pabrik per departemen produksi, di samping harus diperhitungkan biaya overhead pabrik departemen produksi, harus diperhitungkan pula biaya yang terjadi di departemen pembantu, dengan cara mengalokasikan biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi yang menikmati manfaatnya. Langkah pertama dalam perhitungan tarif biaya overhead pabrik per departemen produksi dengan menyusun anggaran biaya overhead pabrik departemen produksi dan departemen pembantu. Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen di bagi menjadi empat tahap utama berikut ini :
a.       Penaksiran Biaya Overhead Langsung Departemen atas Dasar Kapasitas yang Direncanakan untuk Tahun Anggaran
Dalam menyusun anggaran, biaya overhead pabrik dibagi menjadi dua golongan :
1)      Biaya overhead pabrik langsung departemen adalah jenis biaya overhead pabrik yang terjadi atau dapat langsung dibebankan kepada departemen tertentu.
2)      Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen adalah jenis biaya overhead pabrik yang menfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen.
Dalam penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen, langkah pertama yang dilaksanakan adalah dengan menaksir berapa biaya overhead langsung departemen pada tingkat kapasitas yang direncanakan.
b.      Penaksiran Biaya Overhead Tidak Langsung Departemen
Biaya tidak langsung departemen ini kemudian didistribusikan kepada departemen- departemen yang menikmati manfaatnya atas dasar distribusi tertentu berikut ini :


Biaya tidak langsung departemen
Dasar distribusi
Biaya depresiasi gedung
Biaya reparasi dan pemeliharaan gedung
Gaji pengawas departemen
Biaya angkut bahan baku
Pajak bumi dan bangunan (PBB)
Meter persegi luas lantai
Meter persegi luas lantai
Jumlah karyawan
Biaya bahan baku
Perbandingan harga pokok aktiva tetap dalam tiap departemen atau perbandingan meter persegi luas lantai

c.       Distribusi Biaya Overhead Tidak Langsung Departemen ke Departemen- Departemen yang Menikmati Manfaatnya
Dalam rangka penetuan tarif, biaya – biaya overhead pabrik tidak langsung departemen harus di distribusikan kepada departemen- departemen yang menikmati manfaatnya atas salah satu dasar distribusi tersebut diatas.

d.      Menjumlah Biaya Overhead Pabrik per Departemen 

2.       Alokasi Biaya Overhead Pabrik Departemen Pembantu Ke Departemen Produksi
Alokasi biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut ini :
a.       Metode alokasi langsung
Dalam metode alokasi langsung, biaya overhead departemen pembantu dialokasikan ke tiap- tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi saja. Tidak ada departemen pembantu yang memakai jasa departemen pembantu yang lain.
b.      Metode alokasi bertahap
Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tetapi digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain. alokasi biaya overhead dari departemen pembantu ke departemen produksi dilakukan secara bertahap, dengan pertama kali mengalokasikan biaya overhead antar departemen pembantu, baru kemudian mengalokasikan biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi. Metode alokasi bertahap dibagi menjadi dua kelompok metode :
1)      Metode alokasi bertahap yang memperhitungkan transfer jasa timbal balik antar departemen – departemen pembantu. Yang termasuk dalam kelompok metode ini adalah :
(1)    Metode alokasi kontinu (continuous allocation method)
(2)    Metode aljabar (algebrals method)
2)      Metode alokasi bertahap yang tidak memperhitungkan transfer jasa timbal balik antardepartemen pembantu. Metode alokasi yang termasuk dalam kelompok ini adalah “metode urutan alokasi yang diatur” (specified order of closing).

3.       Perhitungan tarif pembebanan biaya overhead pabrik perdepartemen 

C.      Metode Alokasi Bertahap Yang Memperhitungkan Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu
Di dalam menyusun anggaran biaya overhead pabrik per departemen, biaya dibagi menjadi dua golongan, biaya langsung departemen dan biaya tidak langsung departemen. Biaya tidak langsung harus dibagikan kepada departemen – departemen yang menikmati manfaatnya, baik dalam departemen produksi maupun departemen pembantu. Istilah yang dipakai untuk menggambarkan pembagian biaya overhead tidak langsung departemen kepada departemen – departemen yang menikmati manfatnya, baik departemen produksi maupun departemen pembantu adalah distribusi biaya overhead.
Langkah selanjutnya dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik adalah membagikan biaya overhead departemen – departemen pembantu kepada departemen – departemen produksi (dalam metode alokasi langsung) atau kepada departemen – departemen pembantu lain dan departemen produksi (dalam metode alokasi bertahap). Istilah yang digunaka untuk pmenggambarkan pembagian biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi, atau dari departemen pembantu ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi adalah alokasi biaya overhead.
Atas dasar tarif ini biaya overhead pabrik dibagikan kepada produk di departemen produksi. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembagian biaya overhead pabrik di departemen produksi kepada produk adalah pembebanan biaya overhead. Tiga macam tariff : Tarif distribusi adalah tarif yang digunakan untuk membagikan biaya overhead tidak langsung departemen kepada departemen – departemen yang menikmati manfaatnya, baik departemen pembantu maupun produksi.  Tarif alokasi adalah tarif yang digunakan untuk membagikan biaya overhead departemen pembantu kepada departemen produksi, baik secara langsung maupun bertahap. Tarif pembebanan adalah tariff yang digunakan untuk membagikan biaya overhead pabrik kepada produk.
D.      Metode Alokasi Bertahap Yang Tidak Memperhitungkan Transfer Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu

Metode alokasi beertahap yang banyak digunakan adalah metode urutan alokasi yang diatur (specified order of closing).
Karakteristik metode urutan alokasi yang diatur adalah sebagai berikut :
1.       Biaya overhead departemen pembantu dialokasikan secara bertahap
2.       Alokasi biaya overhead departemen pembantu diatur urutannya sedemikian rupa sehingga arus alokasi biaya menuju ke satu arah
3.       Pedoman umun di dalam mengatur urutan alokasi biaya overhead departemen pembantu adalah sebagai berikut :
a.       Biaya overhead departemen pembantu yang jasanya paling banyak dipakai oleh departemen – departemen lain, dialokasikan pada urutan yang pertama.
b.      Urutan alokasi biaya dapat juga didasarkan pada urutan besarnya biaya overhead dalam masing – masing departemen pembantu.
c.       Departemen pembantu yang paling banyak menerima jasa dari departemen pembantu lain, diletakkan paling akhir dalam proses alokasi biaya overhead. Mengenai pemilihan departemen pembantu yang terakhir dialokasikan biayanya, seringkali pertimbangannya dilihat dari sudut pengendalian biaya.
4.       Selama melakukan alokasi biaya overhead harus diperhatikan pedoman umum berikut ini :
a.       Tidak diadakan alokasi biaya overhead ke dalam departemen yang biaya overhead nya telah habis dialokasikan ke departemen lain. Dengan kata lain, tidak dimungkinkan timbulnya arus balik dalam proses alokasi biaya overhead.
b.      Departemen – departemen pembantu yang saling memberikan jasa, bila jumlahnya tidak material dan saling mengkompensasi, tidak diadakan alokasi biaya overhead ke dalamnya.

E.       Akuntansi Biaya Overhead
Akuntansi biaya overhead terdiri dari pencatatan :
1.       Pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk berdasar tariff yang di tentukan dimuka
Apabila produk diolah melalui lebih dari satu departemen produksi, untuk menampung biaya produksi, di dalam buku besar dibentuk rekening Barang Dalam Proses untuk tiap departemen produksi. Biaya overhead yang dibebankan kepada produk ditampung dalam rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan. Rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan perlu di bentuk untuk tiap departemen produksi.
2.       Pengumpulan Biaya Overhead Pabrik yang Sesungguhnya
Untuk mengumpulkan biaya overhead sesungguhnya terjadi, dalam buku besar dibentuk rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Rekening ini dirinci lagi sesuai dengan pembagian departemen pembantu dan departemen produksi. Pencatatan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya mula – mula dilakukan dengan mendebit rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Rincian jenis biaya overhead pabrik dalam tiap – tiap departemen produksi dan departemen pembantu diselenggarakan dalam buku pembantu.
3.       Penutupan Rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan ke Rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Untuk menghitung pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik, biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang di muka dipertemukan dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.
4.       Penentuan Biaya Overhead Pabrik yang Kurang atau Lebih Dibebankan
Untuk menghitung pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik, pada akhir periode akuntansi dihitung saldo rekening Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya perdepartemen.